Siswa SMP Tidak Tertarik Kunci Jawaban
Posted by Unknown on 10.45
SURABAYA – Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) akan
menerjunkan 114 orang pengawas saat ujian nasional (UN) SMP yang dimulai per 5
Mei 2014. Mereka akan disebar di 38 kabupaten/kota se Jatim.
“Tiap kabupaten/kota akan ada tiga orang pengawas dari LPMP.
Pengawas LPMP akan bergabung dengan pengawas guru yang disediakan Dinas
Pendidikan kabupaten/kota,” kata Ketua LPMP Jatim, Salamun, Kamis (24/4).
Menurut dia, pengawas dari pihaknya tidak berhak masuk ruang
ujian. Aturan ini berbeda dengan saat UN SMA/SMK/MA yang memperbolehkan
pengawas dari satuan pendidikan dari perguruan tinggi untuk masuk ruangan.
“Tidak apa-apa jika pengawas dari LPMP tidak boleh masuk. Kami di luar ruangan
saja,” imbuhnya.
Salamun menegaskan kemungkinan adanya joki atau bocoran
kunci jawaban, tidak perlu dikhawatirkan.
“Tidak perlu dikhawatirkan. Hasil UN SMP hanya untuk masuk SMA, tidak
seperti hasil UN SMA yang untuk masuk peguruan tinggi. Saya rasa siswa SMP
tidak akan tertarik bocoran yang memanfaatkan teknologi,” tandasnya.
Pihak sekolah dan Dindik kabupaten/kota, kata Salamun,
diminta menyosialisasikan bahwa UN adalah sesuatu yang tidak perlu ditakutkan,
namun sesuatu yang biasa.
Soal adanya siswa yang mencari kunci jawaban soal UN
SMA/SMK/MA, Salamun menilai karena kesalahan pemahaman. Bagi siswa, UN menjadi
sesuatu yang menakutkan, hingga berdampak ke psikologis siswa. Dindik provinsi
hingga kabupaten/kota dituntut terus menyosialisasikan UN sebagai sesuatu yang
biasa.
“Untuk pemindaian lembar jawaban ujian nasional (LJUN) SMP
akan dilakukan di Unesa, Unair, ITS. Dindik provinsi berperan sebagai
pengaturnya,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Dindik Jatim, Harun, belum bersedia
berkomentar banyak soal UN SMP. “Wis sesuk wae (hari ini) aku ngomong soal UN
SMP, ojo saiki. Saiki tulisen beritane Salamun disik,” singkat Harun.
Sementara itu Kepala SMA Negeri 12 Surabaya Hasanul Faruq,
memenuhi panggilan untuk dilakukan pemeriksaan di Subunit Vice Control (VC)
Unit Kejahatan Umum (Jatanum) Polrestabes Surabaya, Kamis (24/4). Hasan
diperiksa terkait peredaran kunci jawaban UN di sekolah yang dipimpinnya.
"Tidak lama kok, sekitar satu jam. Pertanyaannya
seputar pengawasan saat UN, tidak ada hal yang baru," kata Hasan.
Menurut Hasan, dirinya diberi pertanyaan soal kunci jawaban
UN yang beredar. Dia ditanya apakah mengetahui adanya kunci jawaban tersebut.
"Saya ditanya apakah sebelumnya saya tahu jika siswa saya memakai kunci
jawaban. Ya saya jawab tidak tahu, karena saya baru tahu ketika polisi datang
ke sekolah saya," kata Hasan.
Hasan menceritakan di hari terakhir pelaksanaan UN, polisi
mendatangi sekolahnya dan mengatakan jika ada siswa yang diketahui membawa
kunci jawaban. "Sebelum dilaksanakan UN, tiba-tiba ada polisi datang ke
sekolah saya. Saya justru tahunya dari polisi kalau ada siswa saya yang membawa
kunci jawaban," kata Hasan.
Kehadiran Hasan ke Polrestabes Surabaya justru berharap, ada
informasi perkembangan yang signifikan terkait kasus ini. Dia berharap agar
polisi bisa mengungkap siapa yang memberikan kunci jawaban pada siswanya.
"Saya datang ke Polrestabes ingin tahu apakah ada perkembangan, ternyata
tidak ada informasi yang signifikan. Saya harap agar polisi bisa mengungkap
kasus ini," kata Hasan. (end/bbs)
Menurut mantan kepala sekolah SMAN 9 itu mengatakan,
siswa-siswanya adalah korban.
"Ini harus diusut tuntas ke akar-akarnya," tambah
Hasan.
Categories: Pendidikan
.jpg)