wong ndeso numpang nampang

  • Harga Gabah di Bawah HPP

    JOMBANG - Kendati harga penetapan pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp 3.700 per kilogram, namun di tingkat petani jauh lebih rendah dari yang sudah ditetapkan. Di Jombang misalnya, gabah kering panen (GKP) hanya dihargai antara Rp 3.300 hingga Rp 3.400 per kilogram.

    Baca Lengkapnya
  • Enter Slide 2 Title Here

    This is slide 2 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

    Read More
  • Enter Slide 3 Title Here

    This is slide 3 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

    Read More

imvres

Imvres sebuah lingkungan kecil yang terdapat di sebuah desa terpencil yang berada di sisi timur kota CIREBON dengan Kecamatan Babakan Gebang yang diapit oleh dataran tinggi dari sebelah selatan dan pesisir dari sebelah utara ( Pantura ).
Imvres dikenal dengan sebutan Blok imvres dengan lingkungan yang cukup ramah dipenuhi oleh dinamika kehidupan yang cukup komplit.
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Menyiapkan Hari Esok yang Lebih Baik

Mutiara Hati 


Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah saw pada permulaan siang. Lalu, ada suatu kaum yang mendatangi beliau dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, membungkus diri dengan kulit macan atau sejenis mantel dengan menyandang pedang. Kebanyakan mereka berasal dari Mudhar, bahkan seluruhnya berasal dari suku Mudhar."
Maka, (raut) wajah Rasulullah pun berubah ketika melihat keadaan mereka yang demikian miskin itu. Kemudian, beliau masuk, lalu keluar lagi dan memerintahkan Bilal mengumandangkan azan. Maka, Bilal mengumandangkan azan, kemudian iqamah. Lalu, Rasulullah saw mengerjakan shalat, setelah itu beliau berkhotbah.
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu,”-sampai akhir ayat-Lalu, beliau membaca ayat (yang artinya), “Dan, hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Kemudian, seseorang menyedekahkan sebagian dari dinar, dirham, pakaian, satu sha' gandum, dan satu sha' kurma ….-hingga akhirnya Rasulullah saw bersabda, "… meskipun hanya dengan satu belah kurma.” (HR Muslim).

Demikianlah yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya sebelum menjelaskan tentang makna atau kandungan dari surah al-Hasyr ayat 18 yang memerintahkan setiap Muslim untuk menyiapkan hari esok, yang ternyata bukan soal menimbun harta, melainkan justru menyedekahkannya kepada orang-orang yang sangat membutuhkan.
Dengan demikian, bisa diambil pemahaman, sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan adalah cara terbaik seorang Muslim untuk benar-benar bahagia pada hari esok (dunia-akhirat). Dan, bersegera dalam sedekah, meski itu hanya satu belah kurma, sudah cukup untuk mempermudah kehidupan kita pada hari esok yang sekaligus menyolusikan kesulitan sesama.
Dengan kata lain, peka dan peduli terhadap kebutuhan sesama (dengan bersegera melakukan sedekah), utamanya mereka yang memang benar-benar membutuhkan pertolongan adalah wujud nyata keimanan seorang Muslim. Bahkan, itulah manivestasi dari ketakwaan seorang Muslim.
“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS al-Baqarah: 3).
Inilah salah satu perkara yang setiap Muslim harus perhatikan setiap harinya. Ibnu Katsir menjelaskan, “Dan lihatlah apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sendiri berupa amal saleh untuk hari kemudian dan pada saat bertemu dengan Rabb kalian.”
Maka, sungguh tidak mengherankan jika sahabat-sahabat Rasulullah, seperti Khadijah, Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf, berlomba-lomba untuk menyedekahkan hartanya di jalan Allah.
Ternyata, semua itu adalah wujud kesungguhan mereka dalam mempersiapkan kebahagiaan kehidupan mereka pada hari kemudian.

Subhanallah, demikian indahnya ajaran Islam. Kebahagiaan hari esok ternyata tidak semata-mata ditentukan oleh kualitas ibadah kita secara pribadi.
Tetapi, juga dipengaruhi oleh sejauh mana kepedulian kita kepada sesama yang membutuhkan. Dan, itulah tabungan masa depan yang sesungguhnya. (rul)

Kantuk dan Tolah-Toleh Harus Dihindari dalam Salat

Syariah*


Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-hadramy menyatakan bahwa ada tujuh hal yang dimakruhkan dalam shalat. Artinya ketujuh hal itu bila dilakukan tidak sampai mengakibatkan batalnya shalat, tetapi lebih baik dihindari karena dianggap tidak sopan.
Ketujuh hal tersebut dikumpulkan dalam sebuah nadham yang berbunyi:
“Saudara hindarilah tujuh hal dalam salat, mengantuk, menggaruk-garuk, menguap, iseng, ragu hati, mengupil, dan bertolah-toleh. Semua itu selalu ditinggalkan oleh Rasulullah saw”.
Ketujuh hal tersebut memang tidak membatalkan shalat, tetapi dianggap tidak pantas dilakukan ketika shalat. Mengantuk jelas berbahaya, membahayakan diri sendiri dan juga orang lain. Karena dikhawatirkan akan terucap do’a mohon balak-kerusakan. Menguap, menggauk, mengupil, tolah-toleh, dan berbuat iseng, semua menunjukkan ketidak seriusan bahkan mengarah pada penghinaan lawan pihak yang diajak komunikasi.
Sungguh hal ini akan menjauhkan seseorang pada kekhusyukan shalat. Apalagi jika masih ada keragu-raguan dalam hati, entah ragu tentang bilangan raka’at, atau ragu batalnya wudhu, atau ragu tentang makanan yang masih tertinggal di meja, ragu tentang keamanan motor yang diparkir di depan masjid dan lain sebagainya. (nur)

Beda Menuntut Ilmu dan Ketiban Ilmu

Ubudiyah


Semakin maju teknologi elektronik semakin beragam bentuk media yang hadir di depan kita. Jika zaman dahulu belajar dan berita ditularkan dengan amat lambatnya, sekarang semuanya serba cepat. Siapa lebih cepat, dialah yang dapat. Maka mengenallah kita berbagai acara langsung yang seolah tidak berjarak lagi antara watu kejadian nyata dan informasi yang kita terima.


Kemajuan ini sangat berpengaruh sekali pada berbagai lini kehidupan. Mulai dari sistem pembelajaran yang dikenal denga istilah e-learning, sisi administrasi ada e-KTP demikian juga dalam dunia dakwah.


Bagi sebagian orang yang percaya akan mitos teknologi dan obyektivitas media, menanggapi kemajuan ini dengan penuh keriangan karena hal tersebut meringankan kewajiban dalam mencari ilmu 'thalabul ilmi' sebagaimana seruan Rasulullah saw yang telah masyhur 'uthlubul ilma wa lau bis-shin' carilah ilmu sampai negeri cina.


Benarkah demikian? cukupkah kriteria mencari ilmu itu hanya dengan duduk-duduk di depan televisi sambil minum teh dan menyimak para ustadz berceramah? Atau dengan memainkan mouse di depan computer secara oline dan menziarahi berbagai situs Islam? cukupkan semua itu?
Mengenai gambaran ini Muallim KH. Syafi'I Hadzami pernah mengatakannya sebagai ketiban ilmu bukan mencari ilmu (thalabul ilmi). Memang mendengarkan berbagai materi dakwah melalui media apapun merupakan amal baik dan insyaallah banyak memberi manfaat. Namun jika caranya seperti gambaran di atas tanpa ada usaha yang 'merpotkan' itu belum layak disebut mencari atau menuntut ilmu, mengaji, juga bukan thalabul ilmi. Karena sesungguhnya thalabul ilmi itu mensyaratkan wujudnya seorang guru yang akan membimbing dan mengarahkan serta memberikan suri tauladan praktis (aplikatif) dalam dunia nyata. Atau dalam bahasa jawa yang bisa digugu dan ditiru (bisa didengarkan fatwa kebenarannya dan dicontoh tindak lakunya).


Oleh karena itu jika tidak dijumpai seorang guru, hendaklah ia mencarinya hingga ketemu walaupun dengan berjalan sejauh jarak negeri Arab hingga Cina. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Allah Musa as. ketika mengarungi lautan penuh kecapaian dan letih lesu dalam rangka mencari sang Guru Nabi Allah Khidir as.


“Berikanlah kepada kami makanan siang. Sesungguhnya kami telah menjumpai (merasa) letih dalam perjalanan ini”.
Demikianlah, bagaimana kata thlabul ilmi identik dengan thalabul mursyid dan thalabus syaikh sebagai penunjuknya. Begitu pentingnya posisi seorang guru dalam pencarian petunjuk seperti yang diterangkan oleh Ibn Ruslan dalam Zubad-nya.


“Barang siapa yang tidak mengetahui akan sesuatu masalah hendaklah ia bertanya. Barang siapa yang tidaj mendapatkan guru, hendaklah ia berlayar.
Kata berlayar dalam konteks syi'ir diatas adalah bepergian yang selayaknya menyertakan proses usaha keras, letih dan capek. (nur)

Mengaji Sebagai Gaya Hidup

- ODOJ Kampanyekan Gemar Mengaji



JAKARTA – Komunitas pembaca Alquran, one day one juz (ODOJ) tak henti-hentinya menggelar kampanye agar masyarakat gemar mengaji. Bahkan dalam kampanyenya, mereka mengajak umat muslim untuk menjadikan mengaji sebagai gaya hidup.
Pengurus Komunitas ODOJ, Haidir mengatakan, membaca Alquran harus disertai dengan rasa cinta terhadap kitab suci tersebut, sehingga akan tumbuh rutinitas yang ringan untuk membaca Alquran. “Mengaji pun akan menjadi bagian dari gaya hidup Muslim,” ujar Haidar, kemarin.
Haidir menjelaskan ODOJ merupakan komunitas yang diinisiasi alumni Rumah Quran di Depok, Jawa Barat. Para perintis komunitas ini memanfaatkan layanan pesan Whatsapp (WA) dan Blackberry Messenger (BBM) sebagai media pelaporan tilawah harian.
Jadi, para anggotanya akan digabungkan dalam sebuah grup beranggotakan 30 orang, yakni mereka mendapatkan nomor juz Alquran yang berbeda. Anggota yang sudah menyelesaikan tilwahnya hari itu kemudian melapor kepada grup untuk dibuatkan rilis tilawah.
Sejak menggelar soft launching 11 November 2013, jumlah anggota komunitas ODOJ semakin meraksasa. Pada awal Mei ini saja, jumlah anggota komunitas ODOJ sudah mencapai 95.360 orang dari seluruh Indonesia.
Tak hanya dari dalam negeri, peserta juga datang dari Australia, Hong Kong, Qatar, Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Malaysia, Turki, dan Singapura. “Jumlahnya akan semakin banyak,” tuturnya.
Salah satu selebritas yang juga menjadi anggota ODOJ, Alyssa Soebandono, mengaku senang bisa terlibat dalam acara peluncuran tersebut. Menurutnya, membaca Alquran harus menjadi gaya hidup bagi orang yang mengaku menganut Islam. “Dengan adanya komunitas ini, kita jadi saling mengingatkan untuk selalu membaca Alquran,” katanya.
Hal senada diungkapkan peserta lainnya, Miftachul Jannah. Muslimah berusia 24 tahun ini mengaku mendapat informasi mengenai peluncuran ODOJ melalui jejaring sosial Facebook.
Ia pun tertarik dan ingin bergabung. Miftachul juga mengajak teman-teman lainnya agar aksi saling mengingatkan dalam membaca Alquran ini semakin meluas dan membudaya.
Pasangan artis, Dimas Seto dan Dhini Aminarti yang juga terlibat dalam ODOJ mengaku telah memberikan semangat bagi dirinya untuk gemar membaca Alquran. Bahkan, keduanya mengaku, sedang berlomba untuk mengkhatamkan kitab suci.
"Iya (lomba khatamkan), kami beda juz, kadang saling bantu baca. Aku pribadi kalau lagi syuting, di sela-sela syuting aku menyempatkan diri cicil baca Al Qur'an. Kalau lagi di rumah lebih enak lagi banyak waktu bacanya," ungkap Dhini Aminarti.
Kebiasaan baru membaca satu juz Alquran dalam sehari ini juga membawa dampak positif bagi Dimas dan Dhini. Pasangan yang menikah pada 12 Desember 2009 itu mengaku jadi lebih tenang dan sabar.
"Lebih sabar dan lebih tenang iya, terkadang namanya manusia suka balik lagi (emosi). Tapi kalau sudah begitu, Dimas suka bilang 'ambil wudhu kita ngaji lagi'. Itu salah satu yang buat kami tenang selain salat, juga baca Alquran," ungkap Dhini.
Terakhir, Dimas menyebut program ODOJ yang dilakukannya ini berpengaruh terhadap keharmonisan rumah tangganya dengan Dhini. "Ya, menjaga keharmonisan salah satunya ikut ODOJ ini, pondasi rumah tangga kan dari Alquran," pungkas Dimas Seto. * rep/lip

Gus Mus Hadiri Tasyakuran Masjid di Korea

KOREA - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mustofa Bisri atau Gus Mus menghadiri acara Tasyakuran Masjid Shiratal Mustaqim di Kota Ansan Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, Senin (5/5) kemarin. Dalam kesempatan itu, Gus Mus menyampaikan ceramah di hadapan warga Muslim dan NU Korea di masjid itu.
Demikian informasi yang dilaporkan salah seorang Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Korea Selatan M Budi Haryanto kepada NU Online melalui akun jejaring sosial Facebook, Senin (5/5).
Di hadapan jamaah yang memenuhi Masjid Shirotol Mustaqim,  Gus Mus sangat mengapresiasi warga Korea Selatan. Menurutnya, meskipun warga Korea banyak yang belum beragama Islam tetapi sikap sikap kesehariannya lebih mencerminkan ajaran Islam. 
"Orang Korea lebih mempraktikkan dalam perbuatan seperti etos kerja yang tinggi dan lebih menjaga kebersihan. Sedangkan kebanyakan kita hanya pandai berdalil an-Nadlofatu minal iman," kata Gus Mus seraya menyindir.
Dalam berdakwah, kata Gus Mus, jangan hanya semangatnya saja melainkan juga harus memahami yang didakwahkan.  "Kita cinta sama Allah, tapi kita tidak mengenal Allah," tandasnya seperti dituturkan Budi.
Kepada Tenaga Kerja Indonesia, Gus Mus berpesan setelah selesai bekerja di luar negeri harus menjadi uswah jika nanti kembali ke tanah air. "Kita ini orang Indonesia yang kebetulan Islam bukan orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia," tegas Gus Mus yang hadir di Korea bersama istri dan putri keduanya.
Budi menuturkan Masjid Shiratal Mustaqim didirikan oleh Korea Muslim Federation (KMF). Namun pada tahun 2013, Masjid itu dipugar dan dibiayai bersama oleh muslim Bangladesh Pakistan dan Indonesia.
"Sebelum renovasi, ruangan Masjid ini kurang luas sehingga muslim Indonesia di Kota Ansan ini mempunyai tempat sendiri (menyewa). Masjid Ansan yang dulu bernama Masjid Islamic centre Ansan dimakmurkan oleh saudara-saudara muslim Bangladesh Pakistan dan Uzbekistan," tutur Budi. * nuo

Makanan Halal dapat Melembutkan Hati

Mutiara Hati



“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalanganmu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan kalian: dan dia sangat menginginkan (keselamatan dan keamanan) bagi kalian serta amat belas kasih lagi penyayang tehadap kaum mukmin.” (QS at-Taubah: 128).

Di tengah perilaku kekerasan yang melanda masyarakat kita, diwarnai upaya memaksakan kehendak, melunturnya kepedulian sosial, timbulnya kesenjangan sosial, kekerasan dalam rumah tangga, juga dendam yang diperturutkan, maka sikap lemah lembut menjadi pilihan dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan.

Bercermin dari perilaku teladan Nabi Muhammad SAW, maka sudah selayaknya kita mengambil ibrah dan sirah nabawi dalam bersikap dan bertindak.
Setidaknya ada tiga perilaku teladan Rasul SAW yang memperlihatkan kelembutan hati, untuk mengantisipasi gejala sosial kemasyarakatan ini , yaitu sikap rela memaafkan, rendah hati (tawadhu), dan memberi tanpa pamrih. Ketiga sikap tersebut bersumber pada luasnya limpahan rasa kasih sayang beliau pada umatnya.
“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (QS Ali Imran: 159)
Rasulullah SAW memiliki sikap memaafkan bukan karena terpaksa atau karena tidak mampu membalas, tapi karena kasih sayang dan keikhlasan yang sempurna. Sikap rela memaafkan yang beliau contohkan bukan karena adanya paksaan dari orang lain, atau adanya pertimbangan keuntungan yang akan diperoleh, namun semata-mata dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah SWT.
Menurut Imam al-Ghazali, memaafkan yang hakiki adalah bahwa seseorang itu memiliki hak untuk membalas, mengkisas, menuntut, atau menagih dari seseorang yang tertentu, tapi hak yang dimilikinya tersebut dilenyapkan atau digugurkan sendiri. Sekalipun ia berkuasa untuk mengambil haknya itu.
Sikap yang kedua adalah tawadhu bukan berarti merendahkan martabat, akan tetapi justru akan menambah ketinggian akhlak. Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabatnya, “Rendah hati (tawadhu) itu tidak menambah seseorang melainkan ketinggian. Karena itu bertawadhulah, pasti Allah akan meninggikan derajatmu.”
Sikap yang ketiga adalah, memberi sesuatu yang kita miliki  tanpa pamrih, sebagaimana firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.” (QS al-Mudatstsir: 6).
Salah satu bentuk pemberian adalah berupa harta yang kita miliki, dalam bentuk sedekah. Bersedekah itu tidak memengaruhi harta seseorang, melainkan akan semakin menambah banyak jumlahnya. Karena itu bersedekahlah, pasti Allah akan memberikan kasih sayang-Nya pada kalian semua. (HR ad-Dailami)
Lebih jauh Rasul SAW bersabda, "Seutama-utamanya akhlak dunia dan akhirat adalah agar engkau menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang memutuskan silaturahim denganmu, memberi sesuatu kepada orang yang menghalang-halangi pemberian padamu, serta memberi maaf kepada orang yang menganiaya dirimu." (HR Thabrani, Baihaqi, dan Ibnu Abi Ad-Dunya).
Untuk melembutkan hati, Islam memerintahkan umatnya mencari rezeki halal atau memakan makanan yang halal. Karena makanan haram akan mengeraskan hati. Mereka yang mengkonsumsi makanan haram atau dari rezeki yang tidak halal (seperti hasil korupsi dan suap), hatinya akan sulit menerima kebenaran, bahkan hidayah.
Hatinya akan keras sekeras batu dan baja, sehingga cahaya kebenaran sulit masuk ke dalam jiwa mereka. Sebaliknya, makanan halal dapat melembutkan hati kita.
Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya seseorang. “Apa yang bisa melembutkan hati, Wahai Abu Abdillah?” Sejenak Imam Hambal merenung, lalu menjawab, “Makanan halal”.
Hati yang lembut akan memudahkan penerimaannya atas kebenaran Ilahi. Sebaliknya, hati yang keras akan sangat sulit menerima kebenaran Ilahi dan sebaliknya justru mudah menerima kemaksiatan dan kemunkaran.
Jadi, makanan haram bukan saja mengeraskan hati, tetapi juga membuat seseorang terhalang kemakbulan doanya kepada Allah SWT. Meski dalam sebuah firman-Nya, Allah menyatakan akan mengabulkan setiap doa hamba-hamba-Nya. Sebaliknya, makanan halal akan melembutkan hati sekaligus menjadikan doa kita makbul, dipenuhi oleh-Nya.
Makanya umat Islam diingatkan untuk berhati-hati dalam mendapatkan harta atau makanan, agar darah-daging kita, juga keluarga kita atau mereka yang kebutuhan hidupnya berada di bawah tanggung jawab kita, terhindar dari barang haram.
Kehalalan sumber, cara, dan penggunaan harus selalu dijaga, agar rezeki yang kita dapatkan mengandung berkah dan menyelamatkan kita dunia-akhirat.

Yakinlah, rezeki sudah diatur oleh Allah dan kita tinggal berikhtiar secara baik-baik. Rezeki tidak akan jatuh ke tangan siapa pun jika Allah sudah menakdirkannya untuk kita. Allah SWT pun menjamin, setiap makhluk bernyawa, dibarengi dengan “jatah” rezeki masing-masing. Tugas kita adalah ikhtiar, tawakal, dan doa. Wallahua'lam bish shawwab. * sir, rpl

Resep Agar Terhindar Racun Hati

Taushiyah


KH Khoiruzzad selalu terkenang akan petuah KH M A Sahal Mahfudh kala mengajar kitab Mukhtashar Ihya’. Petuah itu ia ungkapkan kembali di hadapan ratusan jamaah pada malam 100 hari wafatnya Rais Aam PBNU tersebut, di Pati, Jawa Tengah. 
“Kebanyakan manusia, paham betul akan kekurangan orang lain. Namun sebaliknya, ia tak tahu, bahkan abai pada keadaan dirinya sendiri,” bagitu dawuh Mbah Sahal yang diungkapkan Khoiruzzad yang termaktub pada salah satu kitab babon dalam bidang tasawuf, Sabtu (3/5) malam lalu.
Untuk itulah, sambung Khoiruzzad, Kiai Sahal memberikan tiga resep agar terhindar dari racun hati ini. Pertama, hendaklah selalu mukholathah (berkumpul) dengan para masyayikh yang dapat mengetahui sirr al-qalb (rahasia hati). Namun, mereka ini adalah golongan yang amat langka. 
Untuk mengatasinya, bisa mempraktikkan resep yang kedua, carilah teman karib yang saleh. Resep ini dicontohkan oleh sahabat Umar bin Al-Khattab kala menjabat khalifah. Ia meminta sahabat Salman untuk mengevaluasi kinerjanya. 
Resep yang terakhir, dengarkanlah ucapan musuhmu, orang yang membencimu atau mendengkimu. Karena mereka tidak akan pernah mengatakan secuil kebaikan yang ada pada dirimu. Ini menjadikan dirimu akan selalu tawadlu’ dan muhasabah al-nafs (introspeksi diri). 
Setelah KH Khoiruzzad menyampaikan sambutan keluarga, acara selanjutnya yaitu tahlil dan do`a yang dipimpin oleh Kiai Ali Fattah Ya’qub. Ia salah satu guru yang mengampu di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM). Di PIM inilah, Kiai Sahal menjabat sebagai direktur selama puluhan tahun. Setelah al-Fatihah pengiring doa selesai, acara kemudian ditutup oleh Kiai Muhshon. * nuo

Puji-pujian Menjelang Shalat Fardlu

Ubudiyah



Puji-pujian dilantunkan di mushalla, langgar atau masjid merupakan nyanyian puitis yang bernuansa keagamaan. Puji-pujian tersebut biasanya dilantunkan bersama-sama oleh  para jemaah menjelang shalat Subuh, Dzhur, Ashar, Maghrib atau Isya sembari menanti datangnya jemaah lainnya yang turut mendirikan shalat berjamaah.
Puji-pujian tersebut ada yang menggunakan bahasa Arab maupun bahasa daerah. Mungkin  berkat  susunannya  yang ritmis, puji-pujian ini mudah dihafal dan menyebar dari satu musala atau masjid ke musala lainnya. 
Puji-pujian yang dilantunkan para jemaah ini biasanya selalu didahului dengan salawatan atau membaca shalawat Nabi dan puji-pujian pada Nabi SAW. Meskipun puji-pujian tersebut berbahasa Jawa, puji-pujian ini selalu didahului shalawat nabi yang memiliki berbagai keutamaan.
Dari Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah ra (dalam Assamarqandi, 1980: 619) Nabi SAW bersabda yang artinya: “Bacalah shalawat untukku, sebab bacaan shalawat itu membersihkan kekotoranmu (dosa-dosamu) dan mintalah kepada Allah untukku wasilah. Apakah wasilah itu ya Rasulullah? Jawabnya: Satu derajat yang tertinggi dalam sorga yang tidak akan dicapai kecuali oleh seorang, dan saya  berharap semoga sayalah orangnya”.
Orang mengenal pujian disebarkan oleh kalangan pesantren dan ada yang mengatakan puji-pujian ini diperkenalkan oleh para walisongo, yakni penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Seperti yang masyarakat kenal lewat sejarah bahwa pendekatan yang digunakan para Walisongo dalam menyebarkan agama Islan adalah  pendekatan persuasif yang bersifat kemasyarakatan sesuai dengan adat dan budaya masyarakat waktu itu. 
Salah satu contohnya adalah Sunan Giri yang menciptakan Asmaradana dan Pucung. Sunan Giri jugalah yang menciptakan tembang-tembang dolanan anak-anak yang di dalamnya diberi unsur keislaman, misalnya Jamuran, Cublak-cublak Suweng, Jithungan dan Delikan (Rahimsyah, tanpa tahun: 54). 
Selain Sunan Giri, ada lagi Sunan Bonang yang menciptakan karya sastra yang disebut Suluk.
Sebagian masyarakat (yang mengenal tarikat) mengatakan bahwa teks puji-pujian diciptakan oleh para pemimpin tarikat dan Syekh Abdul Qadir Jailani.
Puji-pujian yang diperdengarkan di musala berisi shalawatan, doa-doa mustajabah, dan petuah-petuah hidup. Puji-pujian yang diperdengarkan di musala-musala atau masjid-masjid kental dengan ajaran Tasawuf.  * nuo

Contoh Nabi Cintai Tanah Air

PENGAJIAN: Habib Lutfhi bin Ali bin Yahya
mengingatkan jemaah agar mencontoh Nabi SAW,
dalam mencintai tanah air dalam sebuah pengajian.
KARANGANYAR - Rais Aam Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqah al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (Jatman) Habib Luthfi bin Ali bin Yahya mengingatkan kembali tentang nasionalisme bangsa yang menurutnya kini semakin meluntur.
“Melunturnya rasa nasionalisme ini mulai terlihat. Sebagian dari masyarakat kita, terkadang malu untuk mengakui Indonesia sebagai tanah airnya,” ungkap Habib Luthfi saat memberikan mauidoh hasanah pada acara Maulid Akbar di Pesantren Al-Inshof Plesungan Karanganyar, kemarin malam.
Ia menegaskan, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqrar, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku,” tegasnya.
Lebih lanjut Habib Luthfi mengatakan, rasa cinta tanah air ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dan para ulama terdahulu. “Nabi mencontohkan kecintaannya kepada bangsa Arab, ini contoh dari Nabi, lalu bagaimana dengan kita?” Tanya Habib Luthfi.
Untuk itu, rasa nasionalisme ini perlu dikuarkan dengan adanya rasa handarbeni terhadap Indonesia. Yakni perasaan bukan hanya merasa memiliki, melainkan juga ikut memelihara dan menjaganya dengan baik. * nuo

Berpikir dengan Mensyukuri Nikmat Allah

Mutiara Hati

Berpikir merupakan salah satu aktifitas yang dianjurkan oleh Islam. Berbagai ayat mengindikasikan hal ini seperti "afala ya’qilun", "afala yatafakkarun", "afala tubshirun" dan lain-lainnya. Para arif bijaksana mengiyaskan keutamaan berpikir.
Berpikir merupakan salah satu aktifitas yang dianjurkan oleh Islam. Berbagai ayat mengindikasikan hal ini seperti afala ya’qilun, afala yatafakkarun, afala tubshirun dan masih banyak lagi lainnya. Dalam salah satu haditsnya Rasulullah saw pernah bersabda: “Berpikir sesaat lebih baik dari pada beribadah selama enam puluh tahun.”

Para arif bijaksana mengqiyaskan keutamaan berpikir dengan bahasa lain, bahwa berpikir bagaikan lentera hati, barang siapa yang kehilangan pikiran, maka jadi gelaplah hatinya. 

Dalam kitab Nashaihul Ibad dikelompokkan lima objek berpikir yang akan membawa pada lima kebaikan. Pertama: berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Di alam (ayat kauniyyah) akan melahirkan rasa yakin akan keesaannya. Keyakinan bahwa Alah hanya satu-satunya tuhan yang mampu mencipta alam lengkap dengan berbagai hikmah yang terkandung di dalamnya.

Berbagai keajaiban dan keistimewaan setiap makhluk di dunia mulai dari benda terkecil di dalam lubang tanah hingga makhluk berbintang di langit dan juga para malaikat. Karena itulah dalam sebuah ayat diterangkan, “Jikalau kita benar-benar memikirkan berbagai ciptaan Allah SWT, maka akan menimbulkan pemahaman sifat-sifat Allah SWT.”
Misalkan Allah Zat Sang Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq) akan terbukti kebesarannya ketika kita memikirkan wujud cicak yang menempel dinding tanpa ada sayap dengan berbagai nyamuk yang berterbangan sebagai santapannya.
Kedua berpikir akan segala nikmat akan melahirkan perasaan cinta dan syukur kepada-Nya. Bagaimana kita tidak bersyukur jika setiap saat kita dapat bernafas dan menikmati udara dengan bebas tanpa ada pajak dan pungutan. Bagaimana tidak bersyukur jika mata kita mampu melihat segala warna-warni dunia? Andaikan semua itu dicabut Allah SWT, apa yang dapat kita lakukan sebagai manusia?
Maka bersyukur dengan sepenuh hati, berterimakasih dengan sepenuh jiwa bukanlah terasa belum cukup bila dibandingkan segala nikmat yang terlah diberikannya. Padahal jumlah nikmat yang ada tidak akan mampu dihitung oleh manusia.
Ketiga, berpikir dan berangan-angan akan berbagai pahala dan surga yang dijanjikan oleh Allah SWT, kepada orang-orang yang beramal baik, akan menambah nilai kepribadian seorang hamba sehingga ia akan berakhlaq lebih mulia, bertindak sedekat mungkin dengan apa yang dianjurkan Allah dan agama-Nya.
Keempat, berpikir dan mengingat-ingat segala pembalasan yang disiapkan Allah untuk mereka yang dhalim dan selalu berada pada barisan ‘musuh Allah’ karena senantiasa mengapresiasi ajakan iblis dn syetan, akan menambah perasaan takut seorang hamba. Takut akan siksa neraka dan ancamannya.
Sebagaimana layaknya orang yang takut tentu umat manusia akan menghindar dan melarikan diri dari sesuatu yang ditakuti. Orang yang takut neraka tentunya akan menghindar dan menjauhi perkara yang berbau neraka. Berbagai maksiat dan kedurhakaan.
Kelima, berpikir tentang ketaatan seorang hamba dan kebaikan Allah SWT, kepadanya akan menjadikan hidup ini lebih bermakna. Artinya kesadaran akan keluasan ilmu Allah SWT yang selalu ikut berperan dalam kehidupan ini, seolah Allah SWT ikut mempermudah diri seorang hamba dalam beribadah. Akan memantapkan perasaan pasrahnya diri kepada-Nya.
Semoga kita semua menjadi bagian orang yang selalu berpikir dan sadar akan keberadaan diri sebagai hamba yang lemah dihadapa Yang Maha Agung. * nuo

Bangsawan di Mata Rasulullah

Hikmah 

Suatu hari Rasulullah SAW sedang berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Tiba-tiba seorang lelaki berpakaian bagus dan nampak berwibawa melewati mereka. Rasulullah SAW pun kemudian bertanya kepada salah seorang sahabat yang berada di dekatnya mengenai orang yang lewat tersebut. 
Seorang sahabat segera menjawab, ”Wahai Rasulullah ia adalah seorang bangsawan, demi Allah pantas saja jika ia meminang seorang gadis pasti diterima, dan apabila ia membantu memintakan sesuatu untuk orang lain pasti akan dikabulkan.”
Rasulullah SAW hanya diam mendengar jawaban demikian. 
Tak lama kemudian ada lagi orang lain yang melewati mereka dengan pakaian sederhana dan dalam tingkah yang biasa-biasa saja. Lalu Rasulullah SAW pun bertanya kembali kepada para sahabat di sekelilingnya. Bagaimanakah pendapat mereka tentang orang yang juga baru saja lewat.
Seorang sahabat menjawab, ”Wahai Rasulullah ia adalah seorang rakyat jelata miskin yang sangat layak bila pinangannya pasti ditolak. Dan jika memintakan bantuan untuk orang lain, pantas pula ditolak. Orang-orang dapat saja dengan mudah tidak mempercayai ucapan-ucapannya.”
Mendengar jawaban ini, Rasulullah SAW kemudian bersabda, ”Demi Allah, orang yang kedua ini lebih baik dari pada yang pertama, dengan seberat bulatan penuh bumi.” (HR Bukhari Muslim)
Rasulullah SAW lalu menceritakan tentang perbincangan antara surga dan neraka yang kemudian diputusi oleh Allah. Neraka berkata, ”Aku disesaki oleh para pembesar, penguasa dan orang-orang yang sombong.”
Kemudian surga menimpali, ”Aku dihuni oleh orang-orang miskin dan rakyat jelata. ”Allah pun berfirman kepada keduanya, ”Kau surga, tempat rahmat-Ku, terberkatilah mereka yang memasukimu, siapa pun yang Kukehendaki. Dan kau neraka, Aku menyiksa mereka yang memasukimu, siapapun yang Kukehendaki. Masing-msing dari kalian pasti akan Kupenuhi.” (HR Muslim) 
Hamba Allah tidak dinilai berdasarkan kedudukan duniawi. Seorang hamba akan dirahmati atau disiksa karena amal perbuatannya. Siapa pun ia, tanpa peduli jabatan dan status sosialnya. * nuo

Jabatan Sesuai Kitab Al-Hikam

Taushiyah

KH HASYIM MUZADI
MALANG - Di Indonesia, sedang musimnya orang mencari jabatan. Baru-baru ini telah berlangsung pemilihan calon legislatif, sebentar lagi akan ada pemilihan presiden. Terkait dengan jabatan, kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah memiliki tiga pandangan.
Pertama, dilihat dari segi hakikat. Kedua, segi syariat dan ketiga segi politik. “Hal ini menjadi persoalan yang penting agar kita memahami batasan syariat yang sesungguhnya, mengenai bagaimana mencari, mengemban, dan menggunakan jabatan,” kata KH A Hasyim Muzadi dalam pengajian kitab Al-Hikam, di Masjid Al-Ghazali Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, Jawa Timur, Minggu kemarin.
Rais Syuriyah PBNU ini menerangkan, dalam Kitab Al-Hikam disebutkan, apabila kamu tidak ingin tergeser maka jangan memangku jabatan yang tidak mungkin abadi. Makna secara sederhana bahwa tidak ada jabatan yang abadi di dunia ini. Lalu harus bagaimana?
Menurut Kiai Hasyim, jika kamu berani memangku jabatan maka kamu harus berani berhenti dari jabatan itu. Jika takut berhenti dari jabatan, maka tidak perlu menjabat. Hakikatnya, jabatan bersifat sementara. Berbeda dengan derajat. Derajat itu pemberian Allah berdasarkan amal seorang hamba. Derajat mulia tumbuh dari amal saleh yang diberikan Allah kemudian menjadi maqaman mahmuda atau makam yang terhormat. 
Secara syariat, kata Kiai Hasyim, jika jabatan itu digunakan untuk kepentingan syariat maka kemanfaatannya akan luar biasa. Tetapi penyakitnya adalah apakah dia untuk rakyatnya atau rakyatnya saja yang disuruh memilih. 
Dalam keterangannya, untuk menyempurnakan jabatan secara syariat agar bisa bermanfaat, maka orang itu harus memenuhi beberapa syarat; pertama, shidiq. Yaitu jujur dalam hal apapun. Semisal jujur dalam memilih uang negara atau uang pribadi.  
Kedua, amanah. Yaitu seseorang yang diangkat menjadi presiden, menteri atau DPR mesti memenuhi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Ketiga, tabligh, yaitu menyampaikan gagasan semisal jika ia memimpin, rakyat akan dibawa kemana. Keempat, fathanah, dalam arti ia mengerti tugas yang ia emban.
“Apabila jabatan dilihat dari politik maka politik itu adalah pekerjaan mulia jika dilakukan oleh orang yang muli,” ujarnya.
Kiai Hasyim juga bercerita mengenai keadaan politik pada tahun 1977. Saat itu tokoh politik sangat terhormat. Semisal, saat Partai Persatuan Pembangunan (PPP) akan mengadakan kampanye, maka seluruh rumah ingin menjadi tempat kampanye karena masyarakat merasa bangga dengan perjuangan PPP.
“Politisi saat itu dianggap sebagai penyelamat agama dan negara. Berbeda dengan sekarang yang total berubah,” ucap Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang dan Depok ini. 
Lanjutnya, politisi saat ini tidak akan didengarkan bicaranya jika masyarakat tidak diberi bayaran dulu. Berbeda dengan acara pengajian atau istigotsahan, masyarakat tak perlu dibayar, sudah banyak yang datang. Hal ini memberikan makna, bahwa Allah masih membedakan perkara haq dan bathil.
“Mudah-mudahan, kita senantiasa dalam posisi yang benar (haq) dan diberikan keselamatan oleh Allah Swt,” pesan mantan ketum PBNU ini di akhir pengajian. * nuo

Menkes Sarankan Tunda Haji

*Dimentahkan Menag, Terkait Virus MERS-CoV


JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi menyarankan pemberangkatan jemaah haji dan umroh ke Arab Saudi tahun ini ditunda. Alasannya, kebijakan tersebut untuk melindungi warga negara Indonesia dari serangan Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus atau MERS-CoV.
"Walaupun bersifat rekomendasi namun jelas kita harus mengikuti anjuran itu. Untuk umroh (dan haji) jelas kalau bisa kita tunda dululah," kata Nafsiah dalam konfrensi pers di Kementerian Kesejahteraan Rakyat, Jakarta, Senin (5/5).
Nafsiah menjelaskan saran tersebut merujuk pada rekomendasi pihak Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Menurutnya, mereka meminta pelaksanaan haji dan umroh tahun ini khususnya bagi orang tua di atas 65 tahun, jemaah dengan penyakit kronis seperti kanker, disefisiensi terhadap kekebalan tubuh. Selain itu juga pada wanita hamil, anak-anak di bawah usia 12 tahun."Bukan dihentikan tapi bisa ditunda khususnya untuk mereka ini. Ini yang diperketat Saudi Arabia," ujarnya.
Menteri Agama Suryadharma Ali yang turut hadir dalam konferensi pers mementahkan saran dari Nafsiah. Suryadharma mengaku sudah berkomunikasi dengan pihak Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta. Hasilnya, tidak ada rekomendasi ataupun anjuran tersebut. "Barusan Dirjen Haji melakukan pengecekan ke Kedutaan Saudi Arabia mengenai restriksi visa bagi jemaah umroh usia 65 tahun ke atas, ternyata itu tidak ada," tuturnya.
Namun, menteri asal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu memastikan bahwa pihaknya tidak akan bersikap kaku. Apabila ada perkembangan lebih lanjut, dia memastikan akan mengambil kebijakan strategis.
"Bagaimana tindakan pemerintah di dalam pembatasan usia? Saya kira ada dua hal. Pertama adalah (memperhatikan) aturan yang dikeluarkan pemerintah Arab Saudi. Kedua, perkembangan penyebaran MERS-CoV ini kalau semakin meluas, WHO juga menyatakan KLB. Atas dasar itu, kami akan ambil kebijakan lain," ujarnya.

MUI Tak Bisa Membatasi
Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau seluruh jemaah haji dan jemaah umrah asal Indonesia mewaspadai penyebaran MERS-CoV. Karena virus dari Arab Saudi itu sampai saat ini belum ditemukan vaksinnya. Ketua MUI Bidang Perempuan Remaja dan Keluarga, Tutty Alawiyah, Senin (4/5) lalu, menuturkan virus tersebut sebenarnya bukan baru lagi. Sudah ada sejak 2002.
Maka dari itu, setiap ada jemaah haji atau umrah yang akan berangkat ke tanah suci, MUI mewajibkan harus dibekali dengan vaksin antibodi supaya lebih tahan terhadap berbagai serangan virus. "Jangan sampai virus itu terjadi pada jemaah umrah dan jemaah haji kita. Hal itu memang sedang dikhawatirkan," kata Tutty di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat.
Meski adanya ancaman virus MERS-CoV itu, MUI sendiri tidak bisa melarang warga untuk pergi ke Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji atau umrah. Karena menurutnya, niat orang yang mau berangkat umrah adalah untuk ibadah, dan MUI tidak bisa membatasi orang yang hendak beribadah.
"MUI hanya bisa mengimbau. MUI tidak bisa kalau orang mau pergi umrah kami batasi. Misalnya ada orang dari desa ngumpulin duit, sudah lama menabung masa dibatasi. Tapi Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa," katanya.
Tutty menambahkan, meski demikian MUI sendiri tidak terlalu khawatir. Berdasarkan pengalamannya, setiap tahun panitia haji selalu memberikan vaksin kekebalan kepada setiap jaamah haji atau umroh yang hendak pergi ke Arab Saudi.
"Kalau pergi umrah dan haji kan biasanya ada vaksin meningitis. Saya rasa setiap tahun memang ada vaksin itu. Ada yang berjangka lima tahun. Tapi kalau belum pernah pasti dikasih vaksin," kata dia.

Sebelumnya, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) menggelar rapat koordinasi (rakor) tingkat menteri bersama Menteri Agama, Menteri Kesehatan, Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Perhubungan, BNP2TKI dan lainnya di Jakarta.
Rapat itu membahas pencegahan dini sekaligus agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran di masyarakat. Merujuk pada catatan WHO, MERS sudah menulari sedikitnya 261 orang dengan korban meninggal 93 jiwa sejak September 2012 sampai dengan 26 April 2014. Dia mencatat, sebagian besar tertular setelah melakukan kontak dengan hewan setelah berkunjung ke Timur Tengah.

Menyebar ke Amerika
Virus MERS-coV telah menyebar ke 15 negara yaitu Saudi Arabia, Jordania, Qatar, Tunisia, Uni Emirat Arab, Oman, Kuwait, Perancis, Jerman, Italia, Yunani, Filipina, dan Malaysia. Mereka tertular setelah menjalankan ibadah umroh. Pada 27 April, NA 61 tahun, seorang WNI yang tinggal di Arab Saudi meninggal dunia akibat MERS-CoV. Virus ini telah menewaskan lebih dari 100 orang di Timur Tengah, dan penyebarannya dilaporkan sampai ke Amerika Serikat pada akhir pekan lalu, 3 Mei 2014.
Virus tersebut ditemukan pada seorang petugas kesehatan yang baru saja kembali ke Indiana, AS, dari Arab Saudi. Pria itu jatuh sakit dan kini dirawat dalam kondisi stabil. Lembaga kesehatan publik AS, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), menelusuri penumpang pesawat yang melakukan kontak jarak dekat dengan pria tersebut. viv

Bina Rumah Tangga dengan Memuliakan Istri

Mutiara Hati



Siapa tidak mendamba pasangan setia dan selalu mesra? Siapa pula tidak jengah hidup dengan pasangan yang durhaka lagi gampang marah? Faktanya, menjadi pasangan setia dan mesra sungguh tidak mudah.



Membina rumah tangga sakinah, warahmah dan mawaddah memang menjadi dambaan semua orang. Namun untuk mewujudkannya alangkah baiknya kita meneladani cara-cara Rasulullah dalam membina rumah tangga, dan memuliakan istri.
Seperti sikap Rasulullah saat dalam memanggi Aisyah dengan sebutan Humaira, yang kemerah-merahan pipinya. Nama itu menunjukan panggilan manja sebagai tanda sayang. Tidak ada wanita yang tidak tersanjung dipanggil demikian oleh suaminya.
 
Di tengah kesibukan mengurus umat, Rasulullah juga mampu menjaga keintiman bersama istri. Hal ini termaktub dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. “Aisyah berkata: Aku pernah mandi janabat bersama Rasulullah dengan satu tempat air. Tangan kami bergantian mengambil air.” (HR Bukhari dan Muslim).

“Rasulullah juga pernah minum di gelas yang digunakan Aisyah. Beliau pernah makan daging yang sudah digigit Aisyah.” (HR Muslim).
Rasulullah memang begitu memuliakan istri. Boleh jadi sebagian suami lebih nyaman keluar rumah bersama rekan, meninggalkan istri di rumah. Namun sikap Rasulullah berbeda, sebagaimana kesaksian Aisyah. “Ketika hendak melakukan sebuah perjalanan, Nabi biasa membuat undian di antara para istri beliau. Siapa yang namanya keluar undian, dialah yang ikut pergi bersama Rasulullah.” (HR Bukhari dan Muslim).
 
Itulah sosok suami sejati. Kendati demikian, sebagai manusia normal, tentu saja rumah tangga Rasulullah tidak bebas dari konflik. Perselisihan dalam rumah tangga adalah bumbu cinta. Namun, ketika berselisih, Rasulullah tidak pernah melibatkan emosi.

Ketika sedang marah kepada Aisyah, beliau berkata, “Tutuplah matamu!” Kemudian Aisyah menutup matanya dengan perasaan cemas, khawatir dimarahi Rasulullah. Nabi berkata, “Mendekatlah!” Tatkala Aisyah mendekat, Rasulullah kemudian memeluk Aisyah sambil berkata, “Humairahku, telah pergi marahku setelah memelukmu.”
 
Tidak pernah ada kalimat kasar dan menyakitkan dalam rumah tangga Rasulullah. Bahkan, beliau biasa memijit hidung Aisyah jika dia marah, sambil berkata, “Wahai Aisyah, bacalah doa, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan’.” (HR Ibnu Sunni).

Semua kita pasti berharap memiliki rumah tangga yang sakinah dan penuh berkah. Rasulullah telah mengajarkan suami bagaimana memuliakan istri. Seperti sabda beliau, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Lelaki yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Seorang suami dituntut untuk dapat bersikap lembut terhadap istrinya. Karena, sebagaimana telah dijelaskan Rasulullah SAW, istri (wanita) diibaratkan seperti tulang rusuk. Jika diluruskan dengan paksa, maka tulang itu akan patah. Dan sebaliknya, jika dibiarkan akan tetap bengkok.

Suami adalah nakhoda dalam bahtera rumah tangga, demikian syariat telah menetapkan. Dengan kesempurnaan hikmah-Nya, Allah SWT telah mengangkat suami sebagai qawwam (pemimpin). “Kaum pria adalah qawwam bagi kaum wanita….” (An-Nisa: 34) 

Suamilah yang kelak akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT tentang keluarganya, sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah SAW, “Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Dalam menjalankan fungsinya ini, seorang suami tidak boleh bersikap masa bodoh, keras, kaku dan kasar terhadap keluarganya. Bahkan sebaliknya, ia harus mengenakan perhiasan akhlak yang mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang.

Meski pada dasarnya ia adalah seorang yang berwatak keras dan kaku, namun ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih lagi dengan istri dan anak-anaknya, ia harus bisa bersikap lunak agar mereka tidak menjauh dan berpaling. Dan sikap lemah lembut ini merupakan rahmat dari Allah SWT sebagaimana kalam-Nya ketika memuji Rasulullah.

“Karena disebabkan rahmat Allah lah engkau dapat bersikap lemah lembut dan lunak kepada mereka. Sekiranya engkau itu adalah seorang yang kaku, keras lagi berhati kasar, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159)

Dalam tanzil-Nya, Allah SWT juga memerintahkan seorang suami untuk bergaul dengan istrinya dengan cara yang baik. “Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)

Al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas, menyatakan: “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan dan penampilan kalian sesuai kadar kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat hal yang sama.


Rasulullah SWA bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku)." 

Termasuk akhlak Nabi SWA, beliau sangat baik hubungannya dengan para istrinya. Wajahnya senantiasa berseri-seri, suka bersenda gurau dan bercumbu rayu dengan istri, bersikap lembut dan melapangkan mereka dalam hal nafkah serta tertawa bersama istri-istrinya. Sampai-sampai, beliau pernah mengajak ‘Aisyah Ummul Mukminin berlomba, untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Begitulah bagaimana Rasulullah SAW, memuliakan istrinya. Dengan cara itu patut diteladani untuk mewujudkan keluarga sakinah, warahmah dan mawaddah. Semoga kita semua bisa meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW dalam menjalin hubungan suami istri yang baik. (M. Natsir/rpl)

Kebutuhan Alquran Belum Terpenuhi

-    INDONESIA BUTUH 2 JUTA ALQURAN PER TAHUN
JAKARTA - Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, wajar jika kebutuhan Alquran di Indonesia sangat besar. Setidaknya dibutuhkan tidak kurang dari dua juta Alquran dalam setiap tahunnya.
“Tingkat kebutuhan Alquran di Indonesia belum terpenuhi. Tidak ada buku atau produk cetakan yang bisa mengimbangi jumlah pencetakan Alquran,” tegas Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar saat menerima perwakilan Komunitas One Day One Juz (ODOJ) di ruang kerjanya, Jakarta, Rabu (23/2) kemarin.
“Bahkan, di Amerika, best seller-nya adalah Alquran” tambah Wamenag.
Menurut Wamenag, tingkat kerusakan sebuah buku, bergantung pada sejauh mana keterpakaiannya. Semakin sering dibaca, potensi sebuah buku akan rusak atau sobek akan semakin besar. “Buku yang tidak dibaca itu tidak robek. Tapi buku yang robek adalah buku yang sering dibaca. Alquran banyak dibaca,” terang Wamenag.
Dikatakan Wamenag, kebutuhan Alquran di Indonesia sangat tinggi karena banyak dibaca. Semakin sering dibaca, semakin banyak cetakan Alquran yang rusak, apakah karena sobek atau sebab lainnya.
“Perlu Alquran banyak karena semakin sering dibaca, tingkat kerusakan cetakan Alquran juga semakin tinggi. Itu yang membuat kita butuh Alquran 2 juta per tahun,” kata Wamenag.
“Demikian juga dengan Alquran terjemahan. Sekarang ini seperti pisang goreng dijual di toko buku,” imbuhnya sembari menambahkan bahwa dalam event Islamic Book Fair, buku yang paling digemari adalah Alquran.
Wamenag menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif komunitas ODOJ. Wamenag menyarankan agar aplikasi yang dibuat tidak terbatas pada BBM dan WA, tetapi juga bisa memudahkan semua pengguna handphone.
“Produk ini juga harus bisa masuk pada seluruh lapisan masyarakat, dari yang paling bawah sampai yang paling atas, bahkan sampai Presiden,” saran Wamenag.
“Al-Quran itu bisa memberikan kepuasan bagi masyarakat bawah, dan pada saat yang sama juga bisa memberi kepuasan pada masyarakat tingkat khawasul-khawash,” tuturnya.
Oleh perwakilan ODOJ, Wamenag didaulat menjadi penasihat dan diharapkan kehadirannya pada launching ODOJ yang rencananya akan dilaksanakan pada awal Mei 2014 di Masjid Istiqlal. “Boleh. Saya mau diapain saja, asal terkait Alquran,” ujar Wamenag.
Perlu diketahui, ODOJ merupakan komunitas yang bertujuan mengakrabkan umat Islam kepada Alquran dengan merutinkan tilawah satu juz per hari, dengan memanfaatkan teknologi informasi. Sekarang ini, komunitas ODOJ tercatat mempunyai anggota mencapai 92.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia, Australia, Hongkong, Qatar, USA, Jepang, Jerman, Turki, dan Singapura.
Setiap anggota ODOJ dikelompokkan dalam satu grup blackberry messenger (BBM) atau whatsapp messenger (WA) yang beranggotakan 30 orang. Dengan begitu, setiap hari mereka bisa berbagi juz antar anggota grup masing-masing untuk menghatamkan Alquran. * kmg

Memahami Makna Sujud

Ubudiyah 


"Wasjud Waqtarib" demikianlah Allah SWT menutup firmannya dalam surat al-Alaq. Suatu statemen yang tegas dan gamblang. Bahwa sujud merupakan wahana paling efesien untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Memang secara psiklogis sujud memiliki nilai lebih dibandingkan dengan rukun shalat yang lain. Karena ketika sujud posisi seseorang benar-benar mununjukkan kerendahannya di hadapan Sang Khaliq. Bagaimana tidak, kepala yang menjadi bagian paling istimewa dalam tubuh manusia dan tempat bersemayamnya pancaindera. Juga anggota tubuh yang paling dimuliakan oleh manusia, tiba-tiba diposisikan begitu rendahnya hingga rata dengan tanah, tempat kaki berpijak.
Sebenarnya sujud menjadi wahana intim antara hamba dengan Allah SWT. Pada saat itulah mereka merasakan kehinaannya dan sekaligus keagungan Allah SWT. Begitulah yang diisyaratkan Rasulullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.
“Jarak paling dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT adalah ketika (hamba tersebut) sedang sujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika sujud.”
Oleh karena sujud menjadi ruang meditasi yang paling intim, maka dianjurkan ketika bersujud untuk memperbanyak doa.
Demi mengkondisikan kehinaan dirinya sebagai hamba dikisahkan bahwa Umar bin Abdul Aziz selalu sujud di atas tanah. Sehingga kulit jidatnya bertemu langsung dengan tanah dan hidungnya dapat mencium bumi.
Kehinaan seorang hamba ketika bersujud tidaklah sia-sia, karena Allah swt berjanji akan menaikkan derajat orang tersebut dan sujud itu akan menyingkirkan berbagai macam keburukan darinya.
Dengan kata lain sujud juga dapat menjadi salah satu terapi menghindarkan diri dari berbagai keburukan dan kemaksiatan, sebagaimana shalat dapat mencegah diri dari kekejian dan kemungkaran.
Begitu pentingnya makna sujud sehingga Rasulullah SAW pernah berwasiat kepada salah satu sahabatnya: “Bahwasannya seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW, "do'akanlah aku agar dapat menjadi orang yang menerima syafaatmu (di hari kiamat) dan mendapatkan rizqi dengan menemanimu di surga" kemudian Rasulullah SAW menjawab "maka aku perintahkan untuk memperbanyak sujud"
Sebagai bukti penguat betapa pentingnya sujud adalah cerita penderitaan setan ketika seseorang melakukan sujud tilawah (sujud yang diperintahkan ketika membaca ayat tertentu dalam Alquran). Maka setanpun berkata "Sungguh beruntung hamba ini yang diperintahkan bersujud, kemudian ia bersujud. Maka surge akan menjadi bagiannya. Dan sungguh celaka diriku ini (setan) yang diperintahkan sujud, tetapi malah membangkang. Maka aku akan kebagian neraka. * nuo

Video