Minim Insentif, Minat Menulis Jurnal Ilmiah Rendah
Posted by Unknown on 21.20
JAKARTA – Membudayakan mahasiswa menulis sudah kerap
dilakukan. Namun tidak membuahkan hasil maksimal meski akademisi memiliki
kewajiban untuk menulis jurnal ilmiah. Sayang, minat menulis jurnal ilmiah di
Indonesia masih rendah. Kalaupun ada, kualitasnya juga masih belum bisa
dibandingkan sebagai jurnal ilmiah karena tidak dilakukan dengan penelitian.
Data tersebut diperoleh dari Scientific American Survey
(1994). Berdasarkan lembaga tersebut, kontribusi tahunan Scientist dan Scholars
Indonesia pada pengetahuan (knowledge), sains, dan teknologi hanya 0,012
persen. Fakta tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan kontribusi
Singapura yang mencapai 0,179 persen.
Hal itu mengemuka dalam "Workshop Publikasi Ilmiah
Jurnal Nasional dan Internasional" bagi mahasiswa S-3 di Fakultas Biologi
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. “Tentu kalau dibandingkan dengan
sumbangan ilmuwan di AS tidak signifikan karena disana mencapai 20 persen,”
tutur peneliti dari Jurusan Kimia FMIPA UGM Mudasir, Jumat (25/4/2014).
Menurut Mudasir, rendahnya minat menulis artikel ilmiah
di Indonesia disebabkan beberapa faktor. Selain tidak tahu bagaimana cara
menulis karya ilmiah demgan baik, penghargaan (insentif) dari universitas juga
masih kecil.
Di sisi lain, kata Mudasir, situasi jurnal ilmiah di
Indonesia juga belum optimal. Contohnya oplah jurnal ilmiah di Indonesia yang
terbatas hanya sekitar 400 kopi peredisi. Sirkulasinya yang terbatas dan
bersifat lokal serta tidak dilanggan oleh perpustakaan.
"Bahkan sebelumnya belum disertai abstrak dalam
bahasa Inggris sehingga sedikit disitasi. Akibatnya jurnal ilmiah kita tidak
begitu dihiraukan oleh dunia scientific," paparnya.
Dia mengaku, dalam masyarakat ilmiah yang relatif belum
berkembang, kegiatan diseminasi melalui peer-review perlu diberi dorongan yang
memadai. Adanya skema penelitian yang mengharuskan publikasi diharapkan dapat
meningkatkan gairah peneliti Indonesia untuk mempublikasikan hasil penelitiannya
di jurnal ilmiah bertaraf nasional terakreditasi dan peer-review international
journals.
Senada dengan Mudasir, Wakil Dekan Bidang Akademik dan
Kemahasiswaan Fakultas Biologi UGM Budi Setyadi Daryono menilai, tanpa adanya
publikasi maka ilmu pengetahuan akan mati. Budi menyatakan, kualitas penelitian
dosen maupun ilmuwan Indonesia tidak kalah jika dibandingkan penelitian dari
luar negeri.
"Poin pentingnya adalah bagaimana menulis ilmiah itu
menjadi budaya yang terus dilestarikan. Bahasa Inggris bukan menjadi kendala
bagi kita untuk terus menulis," tegas Budi.
Workshop yang berlangsung selama dua hari tersebut
diikuti sekira 40 orang mahasiswa S-3 dari beberapa angkatan. Kegiatan tersebut
cukup penting mengingat diterbitkannya artikel di jurnal ilmiah bagi mahasiswa
merupakan syarat utama kelulusan studi S-3 di Fakultas Biologi UGM yang memilih
jalur wisuda. Imm/net
Categories: Pendidikan
.jpg)