Kerenda untuk Kartini
Posted by Unknown on 14.54
Cerpen Afyu Ananta
Subuh itu
ayam mulai menampakkan tirai keletihan sang embun , tak kala sentuhan dingin
senyap mulai mengelabuhi warna pagi.
“Entah berapa lama hujan ini akan reda, aku
tak terlalu mengerti”.
Seperti
kidung yang saling menyahut ,perasaan tini pun mulai hambar. Di balik trotoar
yang selalu menghinanya dia rebahkan kesah parasnya, meski entah sekeras apapun
dia sandarkan kesahnya ,tapi di sudut bentangan itu tak akan ada yang pernah
mengenalinnya.
Tini adalah
satu dari seribu kisah yang tak akan khayal dan banyak dijumpai dalam sepanjang
perjalanan di tengah keramain kota, tapi entah seramai apapun keadaan kota, Tini
selalu saja terbingkis sepi dalam setiap kelam kisahnya, mungkin saja dia
terbiasa akan keadaanya tapi dia tak pernah bisa membohongi perasaanya.
Satu bulan
yang lalu dia masih bisa menikmati kehidupan hangat akan kasih sayang dari
hangatnya jemari peluk dari ke dua orang tuanya, tetapi tak selalu indah dalam
kenyataanya, karena sebab tertentu tiba-tiba ayah Tini yang sebelumnya
berprofesi sebagai seorang pedagang tiba-tiba meninggal sesaat sang ayah dalam
perjalanan pulang, ketika itu sang ayah bermaksud membeli sebuah hadiah buat Tini
sebab Tini hari itu ulang tahun, tapi dari bilik kejauhan datanglah sebuah truk
dan menabrak ayah Tini.
“Ayah kenapa
bu...?” tanya Tini.
“Ayah dimana
bu…? sang ibu pun tak sanggup menjawabnya, karena hal itu terlalu berat
sebenarnya untuk dikatakan.
Tapi Tini
pun mengerti akan semua kejadiaan yang terjadi yang sedang menimpa keluarganya,
yang sedang dialami oleh ayahnya. Tini berusaha ikhlas bahkan Tini bisa lebih
tenang dibandingkan ibunya, seketika itu tini mencoba menenangkan sang ibu.
Mungkin
setelah kejadiaan itu Kartini atau Tini akan terasa sepi dalam kesehariannya
dan tempaan hidup akan lebih keras menghadang dan akan membekukan kedap
langkahnya, tapi Tini pun tak pernah menyalahkan akan keadaanya entah itu
sekarang atau sebelumnya.
Setiap
langkah dalam kerikil perjalanannya terasa sakit menjamah tapi dia tak pernah
mengeluh, meski dia hidup di jalanan tapi dia tak pernah mengemis selayaknya
batin dia, karena dia tahu ibunya akan sedih. Sehari-harinya Tini mengamen di
tapian trotoar yang dimana setiap harinya ada ribuan kendaraan yang silih
berganti.
“Maaf pak,
permisi…. saya hanya ingin mengamen.”
Suara indah
tertoreh dalam setiap pita gerak lengking suaranya, tapi terkadang banyak yang
menolaknya meskipun itu sebuah receh tapi itu sangat berarti buat Tini, setiap
keringat yang keluar dari langkah tini tak pernah selalu membohonginya.
Ketika senja
mulai membatas antara siang dan malam, tibalah saatnya Tini pulang untuk
melepas lelah yang sebenarnya tak terbantahkan olehnya, tapi perasaan Tini sore
itu terasa tak enak sehingga dia bergegas untuk pulang, dalam setiap langkahnya
dia sangat terburu-buru dan tak mampu berpikir apa-apa lagi, sesaat setelah dia
sampai di rumah betapa kagetnya Tini melihat ibunya terkapar jatuh tak berdaya.
“Bu… Ibu
kenapa? Jawab tini bu…”
Tapi sang
ibu pun terlihat tidak menjawab apa-apa bahkan tak bergerak. Menurut tuturan
dari tetangga, ibu tini terkena seranga jantung saat siang tadi, ketika ada
seseorang yang datang entah apa yang terjadi sang tetangga pun juga tak
mengerti. Tapi ada secarik kertas yang tertinggal di meja yang berisi tentang
utang, karena ibu Tini kaget sehingga dia terkena serangan jantung, kerena
hutang yang terlalu besar dan tak mampu membayarnya.
Untuk ke dua
kalinya kartini sangat sedih sekali teriring sebuah kerenda yang membawa ibu
dan ayahnya, bahkan sekarang tini tak punya tempat untuk bernaung karena
rumahnya di sita sebagai ganti hutang-hutang yang ada.
“bu….. yah
…..sekarang aku tak punya tempat”
“aku harus
bagaimana”.(dalam hati tini mencoba bertanya)
Sepanjang
hidupnya tini sama sekali tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup seperti ini
seorang diri menerka jalanan, yang terkadang senyap dan dingin menyeka kulitnya
yang kusam dan coklat keputih-putihan.
“minggir kau
,jangan halangi jalanku”.tiba-tiba seseorang berlari dan menabrak tini
“maaf kenapa
kakak terburu-buru”. Tini dalam tuturnya yang tidak menahu apa-apa terjatuh
karena tersenggol oleh seorang pemuda yang lari tadi.
Tak lama
kemudian pemuda tersebut bersembunyi di balik semak-semak pohon.
“haii …awas
kalau kamu berbicara”.
“bicara apa
kak”.
“pokoknya
kamu diam saja kalau ada yang mencari ku”.
Ternyata
sesaat kemudian pemuda yang telah kecapekan tersebut akhirnya memutuskan
bersembunyi karena merasa sudah kecapekan berlarian dari beberapa hitungan
menit yang berlalu, dan dari arah yang sejalan dari pemuda itu berlari banyak
orang berdatangan dengan berkerumun yang seperti sedang mengejar mencari
sesuatu.
“nak……apa
kamu tau ada orang yang berlari lewat sini tadi”.
Tini
teringat ancaman tadi ,ternyata pemuda tadi sedang berlari dan dikejar oleh
kerumunan orang-orang ini, sesaat setelah orang-orang berdatangan datang
seorang ibu.
“nak….bila
kamu tahu kemana orang tadi lari tolong beritahu ibuk, sebab dia membawa barang
yang sangat berharga buat ibuk”
Perasaan
tini pun terketuk ,tini mencoba melawan ketakutan yang ada pada dirinya. Tini
akhirnya mengatakan yang sebenarnya bahwa dia melihat pemuda tersebut sedang
bersembunyi di balik semak-semak yang berada di dekat pohon meski dalam raut
wajah yang ketakutan.
“maaf
buk……….tadi saya melihat orang berlari dan melompat ke semak-semak itu”
“benarkah
nak…? kalau begitu terima kasih”.
Dan setelah
menit berlalu setelah kejadian itu berlangsung sang ibupun mengucapkan banyak
terima kasih kepada tini, sebab di dalam tas yang di ambil pencuri tadi
terdapat satu kenangan yang berharga yaitu sebuah barang kenangan. Bagi ibu
tersebut barang tersebut adalah satu-satunya kenangan yang dimilikinya bersama
anaknya yang telah meninggal seminggu yang lalu.
“nak….ini
ada sedikit rezeki buat kamu,buat jajan”
“maaf bu….
saya nggak bisa menerimanya saya ikhlas”
Betapa
tersentuhnya hati ibu tersebut melihat keteguhan hati tini, sambil terperangah
dan sesaat kemudian tini pamit karena dia harus mengamen lagi, seperti
terhipnotis ibu tersebut yang bermaksud untuk menjadi orang tua asuh bagi tini
,tapi sang ibupun telat karena tini telah beranjak pergi.
“heiii
kamu….jangan lari “.(teriak mulut dari seorang yang nampak kekar berseragam)
Tiba-tiba
tini yang tidak tahu-menahu apa yang terjadi, ternyata disana sedang ada razia
gelandangan, tini pun tak mampu berbuat apa-apa meski dia seorang pengamen dan
kemudian dia diangkut. Disana tini mendapat perlakuan yang kasar dari beberapa
oknum yang tidak bertanggung jawab, tetapi disana juga terdapat beberapa
petugas yang baik yang menawarkan tini sebuah tempat tinggal meski itu sebuah
panti yang sangat usang dan tua.
“nah nak
……kamu sekarang tinggal disini”
“terima
kasih pak, saya akan menjadi anak baik disini”
Panti asuhan
ini adalah tempat tinggal tini sekarang, hari berganti hari tini selalu
memposisikan dirinya dengan baik, meski terkadang tini mendapat perlakuan yang
kurang baik disana walaupun kenyataanya pasti asuhan tersebut adalah panti
asuhan yang cukup terpercaya dan mempunyai donatur yang tetap, tapi tetap saja
tini disana mendapat kesan yang menyedihkan.
Suatu hari
terdapat seorang donatur tetap, seorang bapak-bapak kaya yang ingin mengangkat
salah seorang anak di panti asuhan tersebut.
“bu….
permisi, mengenai pembicaraan tempo lalu, saya ingin mengangkat salah seorang
anak dari panti ini”
“yah ….pak,
kami sudah menyiapkan dan merekomendasikan beberapa anak terbaik kami”
“begitukah…….?”.
“yah … mengenai
itu karena anda adalah donatur tetap kami”.
Bapak
tersebut merasa kurang cocok dengan beberapa anak yang ada di daftar tersebut
dan entah kenapa mata bapak donatur tersebut melihat ke arah tini.
“maaf
bu……saya punya pilihan tersendiri, saya ingin anak yang sedang di luar itu
saja”
“maaf pak
bukannya tidak sopan, anak itu tidak cocok untuk orang sekelas anda”
Karena
keputusan yang sudah bulat akhirnya bapak tersebut memilih tini setelah sesaat
berkas-berkas persyaratannya lengkap, tapi bulan berganti bulan serta tahun pun
berganti meski tini sekarang mendapat pendidikan yang layak, ternyata terkadang
bapak angkat tini tersebut mempunyai temperamen mental yang buruk yang
terkadang suka memukul ,beberapa waktu telah berlalu hingga tini menginjak usia
dipenghujung menengah atas atau SMA , setelah sesaat tini akan menghadapi
kelulusan, tiba-tiba ayah angkat tini menderita sakit. Tini senantiasa merawat
bapak angkatnya tersebut meski terkadang sering menyakiti hatinya, betapa
terharunya ayah angkat atau bapak angkat tini tersebut hingga ajal
menjumpainya.
“makasih
nak……telah merawat bapak ,meski terkadang bapak kasar sama kamu”
“tidak pak,
bapak sangat baik sama tini ,mau menjaga tini sampai tini menjadi seperti ini”
Dan betapa
hancurnya perasaan tini ketika harus menjumpai kerenda itu lagi, sedih perasaan
tini saat dia akan lulus ternyata dia harus menanggung kesendirian lagi, ketika
gugur bunga berjatuhan mengiringi kepedihan kepergian ayah angkat tini,
ternyata muncul mantan istri dari bapak angkat tini yang ternyata ibu tersebut
secara tidak sengaja adalah orang yang pernah tini tolong waktu kecil.
“lhoh……ibu
siapa ? kenapa ada disini”
“kamu……sepertinya
ibu mengenal kamu, bukannya kamu yang waktu itu menolong ibu”
Ternyata
secara tidak disangka ibu tersebut adalah mantan istri dari bapak angkat tini,
karena mengingat keinginan yang tempo dulu belum tercapai karena tini beranjak
pergi, akhirnya tini pun sekarang tinggal bersama ibu tersebut. Hari pun
berganti karena betapa sulitnya mengingat masa lalu yang di jalaninya akhirnya
tini lebih memilih melanjutkan kuliah di jurusan berhubungan dengan dunia yang
lebih memperhatikan ke arah sosial.
Disana
ternyata tini mendapat teman yang sangat baik kepadanya, teman tini yang pernah
mendengar curhatan tentang masa lalu tini akhirnya membuat sebuah film pendek.
Karena begitu terinspirasinya teman tini tanpa sepengatahuan tini akhirnya
teman tini mengikutkan film tersebut dalam sebuah event nasional karena narasi
nya yang cukup menyentuh akhirnya film tersebut menjadi tiga film terbaik dalam
tahun itu dan cukup mendapat perhatian nasional dengan judul”KERENDA UNTUK
KARTINI” .
Categories: Cerpen
