wong ndeso numpang nampang

  • Harga Gabah di Bawah HPP

    JOMBANG - Kendati harga penetapan pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp 3.700 per kilogram, namun di tingkat petani jauh lebih rendah dari yang sudah ditetapkan. Di Jombang misalnya, gabah kering panen (GKP) hanya dihargai antara Rp 3.300 hingga Rp 3.400 per kilogram.

    Baca Lengkapnya
  • Enter Slide 2 Title Here

    This is slide 2 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

    Read More
  • Enter Slide 3 Title Here

    This is slide 3 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

    Read More

imvres

Imvres sebuah lingkungan kecil yang terdapat di sebuah desa terpencil yang berada di sisi timur kota CIREBON dengan Kecamatan Babakan Gebang yang diapit oleh dataran tinggi dari sebelah selatan dan pesisir dari sebelah utara ( Pantura ).
Imvres dikenal dengan sebutan Blok imvres dengan lingkungan yang cukup ramah dipenuhi oleh dinamika kehidupan yang cukup komplit.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Tetes

Cerpen Ando Ajo


Tik tik tik bunyi hujan di atas genting
Airnya turun tidak terkira…
Hari ini hujan turun lagi. Tidak jua mereda sedari pagi. Lebat membasahi bumi. Mila, si gadis cilik hanya bisa duduk berlipat kaki, dagu bertopang memandang lebat hujan yang turun. Dua tangan menggenggam erat selimut tua, menghangatkan tubuh. Di atas balai-balai bambu yang mulai keropos.
Sesekali bibir mungil tersenyum senang, tingkah katak-katak kecil bermain hujan, mengundang liar imajinasi Mila. Lain waktu, Mila menggigil menahan dingin. Bayu berhembus perlahan. Seperti pasak-pasak tajam batangan es, menghujam tulang belulang.
Syuuuh…
Wuush…
Menggoyangkan dedaunan di pohon-pohon rindang. Memaksa batang-batang pada rumpun padi menari riang.
Cobalah tengok… dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua….
Senyum Mila semakin merekah. Ayah pulang berbasah-basah. Kuyup sekujur badan. Meski caping melekat di kepala.
Ayahku nampak gagah. Melangkah santai menorobos hujan. Pacul disandang, sabit dipegang. Membawa bungkusan. Apa ya, isinya?
“Mila!” Pria tua tersenyum menyapa. “Ambilkan Ayah handuk, Nak!”
Mila mengangguk. Berkelumun selimut gadis kecil memasuki gubuk. Datang lagi membawa handuk. Handuk yang awalnya putih kini berwarna coklat kekuningan.
“Ayah bawa apa?” Mila ingin tahu, siapa tahu ayah bawa makanan yang banyak. Dingin ini membuat Mila lapar. Hehehe…
“Tadi,” pria tua angkat plastik hitam besar. “Air sungainya meluap. Ayah lihat banyak ikan. Nih… dibersihin, ya!”
Mila mengangguk senang. Melepas selimut, bergegas menerima bungkusan.
Di dekat gentong besar ada tatakan kayu, juga pisau dan parang. Tangan-tangan mungil si gadis kecil lincah membersihkan ikan. Ada sepat, ada lele, ada gabus…hihihi, Mila bisa kenyang nih!
Tik tik tik bunyi hujan bagai bernyanyi
Saya dengarkan tidaklah jemu…
***
Rahmat Tirta tegak termangu. Dua tangan melipat ke dada, jari jemari sama meremas bahu. Menahan sedih pilu yang menggunung. Nanar menatap gundukan tanah yang masih basah. Air mata mengalir di balik kaca mata. Saru. Samar…
Pemuda dua puluh tahunan ini memutar tubuh. Melangkah meninggalkan kuburan memerah dalam kesendirian. Sunyi…
Nak… maafkan Ibu! Selama ini… Ibu menyembunyikan hal besar darimu, Nak.
Kamu… kamu punya adik, Nak. Punya adik. Dari rahim Ibu, Nak. Maafkan Ibu yang selama ini menitipkanmu pada Nenek.
Ibu… Ibu sudah membohongimu, Nak. Membohongimu!
Tirta kembali mengusap kedua mata. Jalanan ini terasa lengang. “Kenapa kau menyiksa diri, Bu?” Ratap Tirta dalam tangis tak bersuara. Tirta menyadari, almarhum ayah tiri juga sangat baik. “Tapi kenapa, Bu? Kenapa?!”
***
Tik tik tik bunyi hujan bagai bernyanyi
Saya dengarkan tidaklah jemu
Mila menari riang. Kaki telanjang menapaki jalan kecil berlumpur. Udara dingin tidak masalah. Mila tetap ayunkan langkah, lenggang centil mengajak alam. Titik-titik air berkilauan di tepi dedaunan. Kupu-kupu kuning terbang bergerombol.
“Hei, apa yang kalian cari?”
Mila menari kembangkan tangan. Hirup kesegaran udara pedesaan. Langit sudah terlihat. Ahh… begitu indah. Cerah. Gadis kecil tak henti bersenandung. Menari lagi, bernyanyi lagi. Dalam dekapan pucuk-pucuk muda daun singkong. Buat lalapan malam nanti. Hihihi… Mila kekenyangan nih nanti. Ada ikan, juga daun singkong.
Petik lagi petik lagi. Daun singkong kupetik lagi. Singkong liar siapa yang punya?
Mila memandang sekeliling. Sepi. Mengangkat kedua bahu. Gak ada yang punya! Hihihi… petik lagi daun singkong kupetik. Eeh…!? Mila menengadah, menatap tinggi langit di atas. Senyum manis terukir indah. Hihihi… singkong liar Gusti Allah yang punya. Mila petik lagi petik lagi.
Kebun dan jalan… semua sunyi
Tidak seorang berani lalu
Tik tik tik… hujan turun dalam selokan…
“Eeh! Siapa itu?”
Mila berhenti menari, berhenti bersenandung. Sebuah mobil mewah meluncur pelan mendekatinya. Menerobos jalanan berlumpur. Bukan aspal.
Mobil berhenti. Tirta keluar dari dalam mobil. Menghampiri Mila si gadis kecil yang bengong. Ndak pernah ada mobil bagus ke sini. Siapa ya?
“Adik,” panggil Tirta setengah membungkuk, tersenyum menatap Mila. “Maaf, Kakak mau nanya, boleh?!”
Ooh… orang nyasar! Hihihi. Mila mengangguk, mendekap pucuk-pucuk singkong dengan kedua tangan.
“Ngg, adik tahu gak, rumahnya Pak Irul?” Tirta membelai lembut rambut Mila yang sedikit basah.
“Pak Irul?!” Bibir mungil itu miring menggemaskan. Sepasang alis berkerut ke bawah.
“Iya!” Tirta tersenyum lagi menanggapi tingkah gadis kecil itu. “Ngg, dia punya anak perempuan. Namanya… Mila!”
Eeh… “Ngg, saya Mila, Kak! Ayah saya namanya Irul.” Meski bingung Mila menjawab dengan sopan.
Tirta terbelalak. Tubuh meremang dalam senang tak terucap. Tidak peduli tanah becek mengotori sepatu dan celana mahalnya. Tidak peduli pada tubuh gadis kecil yang lembab dan kotor juga. Pemuda ini langsung memeluk Mila dalam dekapan. Berlutut.
“Mila!” Gemetar bibir berucap, di sela haru menguasai diri. “Sayang, ini Kak Tirta.” Tirta mendekap pipi Mila dengan kedua tangan. “Kakak kamu, Sayang! Mila adiknya Kakak.”
Mila bingung. Tidak mengerti. Hanya berdiri terpaku meski Tirta memeluknya penuh kasih, dalam ratap haru yang terlihat jelas. Sesegukkan mengguncang badan.
“Enngg… Ka—kak, jelek deh! Nangis kek gitu!” Mila si gadis kecil manyun. Bibir monyong memancing senyum.
Tirta tak kuasa untuk tidak tertawa. Hadirkan suara mendengus kencang, menahan tawa dan haru sekaligus dalam diri.
“Di–mana Ayah, Sayang?! Rumah?” Tirta melepas kaca mata, mengusap mata yang basah, dan mengenakan lagi kaca mata itu.
“Itu…” Mila menunjuk ke sisi kiri. Di sana, di tengah hamparan padi yang mulai menguning. Sebuah gubuk bambu.
“Ayoo, Mila!” Ajak Tirta.
Tirta menggandeng tangan Mila. Melangkah menuju gubuk bambu. Bentangan sawah sejauh mata memandang. Basah berkilau butir-butir air. Kicau burung-burung menyambut cerahnya langit. Nyanyian katak riuh-rendah dalam kubangan. Deru riam aliran air, mengalun indah menemani langkah. Unggas-unggas air berenang riang, mandi-mandi basahi bulu. Kejar, selam, menangkap ikan.
Tik tik tik hujan turun dalam selokan
Tempatnya itik berenang-renang…
Bersenda gurau, menyelam-nyelam
Karena hujan berenang-renang…
***
Pria tua terpaku hening. Meski bibir bergetar, tak sebarang kata mampu terucap. Hanya lelehan bening di kedua sudut mata saja yang mampu menjelaskan. Pria tua… berduka. Sakit mengetahui Ibu Mila telah tiada. Meski… bekas istri. Namun cinta di hati, tak pernah dimungkiri. Tak pernah terganti. Tiada sekali jua ia khianati.
Yang mampu dilakukan, memeluk Mila dalam dekapan. Perlahan isak tangis penuhi ruangan.
“Mila bingung kenapa Ayah juga menangis?” Tangisan sang ayah memancing bulir-bulir suci untuk tumpah. Mengguncang tubuh gadis kecil. “Kakak itu juga!”
Tirta sungguh tak kuasa. Menahan keharuan ini? Menahan gelora indah dalam kesedihan ini? Sungguh tak bisa.
Tirta bersimpuh di lantai gubuk. Biarlah berkotor-kotor dengan tanah, asalkan pelukan ini nyata adanya.
***
“Mila udah siap, Sayang?” Tirta tersenyum memandang sang adik. Berdiri di samping pintu mobil yang terbuka.
Mila masih asyik memandang hamparan padi. Dua tangan sama mengembang. Gaun kesukaannya menyelimuti badan. Mila menengadah. Hamparan langit sore begitu bermakna. Indah tak terlukiskan. Tuhan… terima kasih. Udah memberi Mila seorang Kakak. Makaaasih ya, Tuhan. Mila tersenyum menunduk. Menatap alam yang selama ini akrab mengajaknya berdendang.
“Nanti kita berjumpa lagi…!” Suara lengking lantang bergema. Sesiur angin menjawab ucapan. Lambaian rumpun padi seakan ikut melepas kepergian. Burung-burung pipit serentak terbang mengangkasa. Menyibak ke sana, ke mari.
Tirta semakin terpesona. Mila begitu mencintai alamnya. Mila datang menghampiri. Memeluk Tirta dengan segala kasih. Mila punya Kakak. Mila gak sendiri lagi.
Pria tua datang menghampiri. Bersalin pakaian lebih rapi. Satu tas ia pikul. Tidak terlalu besar. Tirta menyongsong. Membawakan tas tersebut, menaruhnya ke dalam mobil.
“Mila, Sayang. Masuk, gih!” Senyum Tirta.
“Mila duduk di depan ya, Kak!” Pinta gadis kecil bermanja. Tirta mengangguk mengabulkan.
“Ayo, Yah…” ujar Tirta pada sang ayah kandung. “Hujan udah mulai turun, nih.”
Pria tua mengangguk, cepat masuk ke dalam mobil di bangku belakang.
Curah hujan semakin lebat, rona langit yang tadi cerah begitu cepat mengelam. Seiring laju mobil meninggalkan hamparan sawah di belakang. Seolah sedih ditinggal Mila pergi ke kota.
Tik tik tik hujan turun bagai bernyanyi
Saya dengarkan tidaklah jemu
Kebun dan jalan, semua sunyi
Tidak seorang berani lalu
Tik tik tik… bunyi hujan…

Sumber syair; Tik tik tik Bunyi Hujan, karya; Ibu Sud.

Kerenda untuk Kartini

Cerpen Afyu Ananta

Subuh itu ayam mulai menampakkan tirai keletihan sang embun , tak kala sentuhan dingin senyap mulai mengelabuhi warna pagi.
 “Entah berapa lama hujan ini akan reda, aku tak terlalu mengerti”.
Seperti kidung yang saling menyahut ,perasaan tini pun mulai hambar. Di balik trotoar yang selalu menghinanya dia rebahkan kesah parasnya, meski entah sekeras apapun dia sandarkan kesahnya ,tapi di sudut bentangan itu tak akan ada yang pernah mengenalinnya.
Tini adalah satu dari seribu kisah yang tak akan khayal dan banyak dijumpai dalam sepanjang perjalanan di tengah keramain kota, tapi entah seramai apapun keadaan kota, Tini selalu saja terbingkis sepi dalam setiap kelam kisahnya, mungkin saja dia terbiasa akan keadaanya tapi dia tak pernah bisa membohongi perasaanya.
Satu bulan yang lalu dia masih bisa menikmati kehidupan hangat akan kasih sayang dari hangatnya jemari peluk dari ke dua orang tuanya, tetapi tak selalu indah dalam kenyataanya, karena sebab tertentu tiba-tiba ayah Tini yang sebelumnya berprofesi sebagai seorang pedagang tiba-tiba meninggal sesaat sang ayah dalam perjalanan pulang, ketika itu sang ayah bermaksud membeli sebuah hadiah buat Tini sebab Tini hari itu ulang tahun, tapi dari bilik kejauhan datanglah sebuah truk dan menabrak ayah Tini.
“Ayah kenapa bu...?” tanya Tini.
“Ayah dimana bu…? sang ibu pun tak sanggup menjawabnya, karena hal itu terlalu berat sebenarnya untuk dikatakan.
Tapi Tini pun mengerti akan semua kejadiaan yang terjadi yang sedang menimpa keluarganya, yang sedang dialami oleh ayahnya. Tini berusaha ikhlas bahkan Tini bisa lebih tenang dibandingkan ibunya, seketika itu tini mencoba menenangkan sang ibu.
Mungkin setelah kejadiaan itu Kartini atau Tini akan terasa sepi dalam kesehariannya dan tempaan hidup akan lebih keras menghadang dan akan membekukan kedap langkahnya, tapi Tini pun tak pernah menyalahkan akan keadaanya entah itu sekarang atau sebelumnya.
Setiap langkah dalam kerikil perjalanannya terasa sakit menjamah tapi dia tak pernah mengeluh, meski dia hidup di jalanan tapi dia tak pernah mengemis selayaknya batin dia, karena dia tahu ibunya akan sedih. Sehari-harinya Tini mengamen di tapian trotoar yang dimana setiap harinya ada ribuan kendaraan yang silih berganti.
“Maaf pak, permisi…. saya hanya ingin mengamen.”
Suara indah tertoreh dalam setiap pita gerak lengking suaranya, tapi terkadang banyak yang menolaknya meskipun itu sebuah receh tapi itu sangat berarti buat Tini, setiap keringat yang keluar dari langkah tini tak pernah selalu membohonginya.
Ketika senja mulai membatas antara siang dan malam, tibalah saatnya Tini pulang untuk melepas lelah yang sebenarnya tak terbantahkan olehnya, tapi perasaan Tini sore itu terasa tak enak sehingga dia bergegas untuk pulang, dalam setiap langkahnya dia sangat terburu-buru dan tak mampu berpikir apa-apa lagi, sesaat setelah dia sampai di rumah betapa kagetnya Tini melihat ibunya terkapar jatuh tak berdaya.
“Bu… Ibu kenapa? Jawab tini bu…”
Tapi sang ibu pun terlihat tidak menjawab apa-apa bahkan tak bergerak. Menurut tuturan dari tetangga, ibu tini terkena seranga jantung saat siang tadi, ketika ada seseorang yang datang entah apa yang terjadi sang tetangga pun juga tak mengerti. Tapi ada secarik kertas yang tertinggal di meja yang berisi tentang utang, karena ibu Tini kaget sehingga dia terkena serangan jantung, kerena hutang yang terlalu besar dan tak mampu membayarnya.

Untuk ke dua kalinya kartini sangat sedih sekali teriring sebuah kerenda yang membawa ibu dan ayahnya, bahkan sekarang tini tak punya tempat untuk bernaung karena rumahnya di sita sebagai ganti hutang-hutang yang ada.

“bu….. yah …..sekarang aku tak punya tempat”

“aku harus bagaimana”.(dalam hati tini mencoba bertanya)

Sepanjang hidupnya tini sama sekali tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup seperti ini seorang diri menerka jalanan, yang terkadang senyap dan dingin menyeka kulitnya yang kusam dan coklat keputih-putihan.

“minggir kau ,jangan halangi jalanku”.tiba-tiba seseorang berlari dan menabrak tini

“maaf kenapa kakak terburu-buru”. Tini dalam tuturnya yang tidak menahu apa-apa terjatuh karena tersenggol oleh seorang pemuda yang lari tadi.

Tak lama kemudian pemuda tersebut bersembunyi di balik semak-semak pohon.

“haii …awas kalau kamu berbicara”.

“bicara apa kak”.

“pokoknya kamu diam saja kalau ada yang mencari ku”.

Ternyata sesaat kemudian pemuda yang telah kecapekan tersebut akhirnya memutuskan bersembunyi karena merasa sudah kecapekan berlarian dari beberapa hitungan menit yang berlalu, dan dari arah yang sejalan dari pemuda itu berlari banyak orang berdatangan dengan berkerumun yang seperti sedang mengejar mencari sesuatu.

“nak……apa kamu tau ada orang yang berlari lewat sini tadi”.

Tini teringat ancaman tadi ,ternyata pemuda tadi sedang berlari dan dikejar oleh kerumunan orang-orang ini, sesaat setelah orang-orang berdatangan datang seorang ibu.

“nak….bila kamu tahu kemana orang tadi lari tolong beritahu ibuk, sebab dia membawa barang yang sangat berharga buat ibuk”

Perasaan tini pun terketuk ,tini mencoba melawan ketakutan yang ada pada dirinya. Tini akhirnya mengatakan yang sebenarnya bahwa dia melihat pemuda tersebut sedang bersembunyi di balik semak-semak yang berada di dekat pohon meski dalam raut wajah yang ketakutan.

“maaf buk……….tadi saya melihat orang berlari dan melompat ke semak-semak itu”

“benarkah nak…? kalau begitu terima kasih”.

Dan setelah menit berlalu setelah kejadian itu berlangsung sang ibupun mengucapkan banyak terima kasih kepada tini, sebab di dalam tas yang di ambil pencuri tadi terdapat satu kenangan yang berharga yaitu sebuah barang kenangan. Bagi ibu tersebut barang tersebut adalah satu-satunya kenangan yang dimilikinya bersama anaknya yang telah meninggal seminggu yang lalu.

“nak….ini ada sedikit rezeki buat kamu,buat jajan”

“maaf bu…. saya nggak bisa menerimanya saya ikhlas”

Betapa tersentuhnya hati ibu tersebut melihat keteguhan hati tini, sambil terperangah dan sesaat kemudian tini pamit karena dia harus mengamen lagi, seperti terhipnotis ibu tersebut yang bermaksud untuk menjadi orang tua asuh bagi tini ,tapi sang ibupun telat karena tini telah beranjak pergi.

“heiii kamu….jangan lari “.(teriak mulut dari seorang yang nampak kekar berseragam)

Tiba-tiba tini yang tidak tahu-menahu apa yang terjadi, ternyata disana sedang ada razia gelandangan, tini pun tak mampu berbuat apa-apa meski dia seorang pengamen dan kemudian dia diangkut. Disana tini mendapat perlakuan yang kasar dari beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab, tetapi disana juga terdapat beberapa petugas yang baik yang menawarkan tini sebuah tempat tinggal meski itu sebuah panti yang sangat usang dan tua.

“nah nak ……kamu sekarang tinggal disini”

“terima kasih pak, saya akan menjadi anak baik disini”

Panti asuhan ini adalah tempat tinggal tini sekarang, hari berganti hari tini selalu memposisikan dirinya dengan baik, meski terkadang tini mendapat perlakuan yang kurang baik disana walaupun kenyataanya pasti asuhan tersebut adalah panti asuhan yang cukup terpercaya dan mempunyai donatur yang tetap, tapi tetap saja tini disana mendapat kesan yang menyedihkan.

Suatu hari terdapat seorang donatur tetap, seorang bapak-bapak kaya yang ingin mengangkat salah seorang anak di panti asuhan tersebut.

“bu…. permisi, mengenai pembicaraan tempo lalu, saya ingin mengangkat salah seorang anak dari panti ini”

“yah ….pak, kami sudah menyiapkan dan merekomendasikan beberapa anak terbaik kami”

“begitukah…….?”.

“yah … mengenai itu karena anda adalah donatur tetap kami”.

Bapak tersebut merasa kurang cocok dengan beberapa anak yang ada di daftar tersebut dan entah kenapa mata bapak donatur tersebut melihat ke arah tini.

“maaf bu……saya punya pilihan tersendiri, saya ingin anak yang sedang di luar itu saja”

“maaf pak bukannya tidak sopan, anak itu tidak cocok untuk orang sekelas anda”

Karena keputusan yang sudah bulat akhirnya bapak tersebut memilih tini setelah sesaat berkas-berkas persyaratannya lengkap, tapi bulan berganti bulan serta tahun pun berganti meski tini sekarang mendapat pendidikan yang layak, ternyata terkadang bapak angkat tini tersebut mempunyai temperamen mental yang buruk yang terkadang suka memukul ,beberapa waktu telah berlalu hingga tini menginjak usia dipenghujung menengah atas atau SMA , setelah sesaat tini akan menghadapi kelulusan, tiba-tiba ayah angkat tini menderita sakit. Tini senantiasa merawat bapak angkatnya tersebut meski terkadang sering menyakiti hatinya, betapa terharunya ayah angkat atau bapak angkat tini tersebut hingga ajal menjumpainya.

“makasih nak……telah merawat bapak ,meski terkadang bapak kasar sama kamu”

“tidak pak, bapak sangat baik sama tini ,mau menjaga tini sampai tini menjadi seperti ini”

Dan betapa hancurnya perasaan tini ketika harus menjumpai kerenda itu lagi, sedih perasaan tini saat dia akan lulus ternyata dia harus menanggung kesendirian lagi, ketika gugur bunga berjatuhan mengiringi kepedihan kepergian ayah angkat tini, ternyata muncul mantan istri dari bapak angkat tini yang ternyata ibu tersebut secara tidak sengaja adalah orang yang pernah tini tolong waktu kecil.

“lhoh……ibu siapa ? kenapa ada disini”

“kamu……sepertinya ibu mengenal kamu, bukannya kamu yang waktu itu menolong ibu”

Ternyata secara tidak disangka ibu tersebut adalah mantan istri dari bapak angkat tini, karena mengingat keinginan yang tempo dulu belum tercapai karena tini beranjak pergi, akhirnya tini pun sekarang tinggal bersama ibu tersebut. Hari pun berganti karena betapa sulitnya mengingat masa lalu yang di jalaninya akhirnya tini lebih memilih melanjutkan kuliah di jurusan berhubungan dengan dunia yang lebih memperhatikan ke arah sosial.

Disana ternyata tini mendapat teman yang sangat baik kepadanya, teman tini yang pernah mendengar curhatan tentang masa lalu tini akhirnya membuat sebuah film pendek. Karena begitu terinspirasinya teman tini tanpa sepengatahuan tini akhirnya teman tini mengikutkan film tersebut dalam sebuah event nasional karena narasi nya yang cukup menyentuh akhirnya film tersebut menjadi tiga film terbaik dalam tahun itu dan cukup mendapat perhatian nasional dengan judul”KERENDA UNTUK KARTINI” .

Video