Puji-pujian Menjelang Shalat Fardlu
Posted by Unknown on 00.30
Ubudiyah
Puji-pujian dilantunkan di mushalla,
langgar atau masjid merupakan nyanyian puitis yang bernuansa keagamaan.
Puji-pujian tersebut biasanya dilantunkan bersama-sama oleh
para jemaah menjelang shalat Subuh, Dzhur, Ashar, Maghrib atau Isya
sembari menanti datangnya jemaah lainnya yang turut mendirikan shalat
berjamaah.
Puji-pujian tersebut ada yang
menggunakan bahasa Arab maupun bahasa daerah. Mungkin berkat
susunannya yang ritmis, puji-pujian ini mudah dihafal dan menyebar dari
satu musala atau masjid ke musala lainnya.
Puji-pujian yang dilantunkan para
jemaah ini biasanya selalu didahului dengan salawatan atau membaca shalawat
Nabi dan puji-pujian pada Nabi SAW. Meskipun puji-pujian tersebut berbahasa
Jawa, puji-pujian ini selalu didahului shalawat nabi yang memiliki berbagai
keutamaan.
Dari Hadis yang diriwayatkan Abu
Hurairah ra (dalam Assamarqandi, 1980: 619) Nabi SAW bersabda yang artinya:
“Bacalah shalawat untukku, sebab bacaan shalawat itu membersihkan kekotoranmu
(dosa-dosamu) dan mintalah kepada Allah untukku wasilah. Apakah wasilah itu ya
Rasulullah? Jawabnya: Satu derajat yang tertinggi dalam sorga yang tidak akan
dicapai kecuali oleh seorang, dan saya berharap semoga sayalah orangnya”.
Orang mengenal pujian disebarkan
oleh kalangan pesantren dan ada yang mengatakan puji-pujian ini diperkenalkan
oleh para walisongo, yakni penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Seperti yang
masyarakat kenal lewat sejarah bahwa pendekatan yang digunakan para Walisongo
dalam menyebarkan agama Islan adalah pendekatan persuasif yang bersifat
kemasyarakatan sesuai dengan adat dan budaya masyarakat waktu itu.
Salah satu contohnya adalah Sunan
Giri yang menciptakan Asmaradana dan Pucung. Sunan Giri jugalah yang
menciptakan tembang-tembang dolanan anak-anak yang di dalamnya diberi unsur
keislaman, misalnya Jamuran, Cublak-cublak Suweng, Jithungan dan Delikan
(Rahimsyah, tanpa tahun: 54).
Selain Sunan Giri, ada lagi Sunan
Bonang yang menciptakan karya sastra yang disebut Suluk.
Sebagian masyarakat (yang mengenal
tarikat) mengatakan bahwa teks puji-pujian diciptakan oleh para pemimpin
tarikat dan Syekh Abdul Qadir Jailani.
Puji-pujian yang diperdengarkan di
musala berisi shalawatan, doa-doa mustajabah, dan petuah-petuah hidup.
Puji-pujian yang diperdengarkan di musala-musala atau masjid-masjid kental
dengan ajaran Tasawuf. * nuo
Categories: Religi
