Bina Rumah Tangga dengan Memuliakan Istri
Posted by Unknown on 11.09
Mutiara Hati
Siapa tidak mendamba pasangan setia dan
selalu mesra? Siapa pula tidak jengah hidup dengan pasangan yang durhaka lagi
gampang marah? Faktanya, menjadi pasangan setia dan mesra sungguh tidak mudah.
Membina rumah tangga
sakinah, warahmah dan mawaddah memang menjadi dambaan semua orang. Namun untuk
mewujudkannya alangkah baiknya kita meneladani cara-cara Rasulullah dalam
membina rumah tangga, dan memuliakan istri.
Seperti sikap
Rasulullah saat dalam memanggi Aisyah dengan sebutan Humaira, yang
kemerah-merahan pipinya. Nama itu menunjukan panggilan manja sebagai tanda
sayang. Tidak ada wanita yang tidak tersanjung dipanggil demikian oleh
suaminya.
Di tengah kesibukan mengurus umat, Rasulullah juga mampu menjaga keintiman
bersama istri. Hal ini termaktub dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari
dan Imam Muslim. “Aisyah berkata: Aku pernah mandi janabat bersama Rasulullah
dengan satu tempat air. Tangan kami bergantian mengambil air.” (HR Bukhari dan
Muslim).
“Rasulullah juga
pernah minum di gelas yang digunakan Aisyah. Beliau pernah makan daging yang
sudah digigit Aisyah.” (HR Muslim).
Rasulullah memang
begitu memuliakan istri. Boleh jadi sebagian suami lebih nyaman keluar rumah
bersama rekan, meninggalkan istri di rumah. Namun sikap Rasulullah berbeda,
sebagaimana kesaksian Aisyah. “Ketika hendak melakukan sebuah perjalanan, Nabi
biasa membuat undian di antara para istri beliau. Siapa yang namanya keluar
undian, dialah yang ikut pergi bersama Rasulullah.” (HR Bukhari dan Muslim).
Itulah sosok suami sejati. Kendati demikian, sebagai manusia normal, tentu saja
rumah tangga Rasulullah tidak bebas dari konflik. Perselisihan dalam rumah
tangga adalah bumbu cinta. Namun, ketika berselisih, Rasulullah tidak pernah
melibatkan emosi.
Ketika sedang marah
kepada Aisyah, beliau berkata, “Tutuplah matamu!” Kemudian Aisyah menutup
matanya dengan perasaan cemas, khawatir dimarahi Rasulullah. Nabi berkata,
“Mendekatlah!” Tatkala Aisyah mendekat, Rasulullah kemudian memeluk Aisyah
sambil berkata, “Humairahku, telah pergi marahku setelah memelukmu.”
Tidak pernah ada kalimat kasar dan menyakitkan dalam rumah tangga Rasulullah.
Bahkan, beliau biasa memijit hidung Aisyah jika dia marah, sambil berkata,
“Wahai Aisyah, bacalah doa, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah
dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah
yang menyesatkan’.” (HR Ibnu Sunni).
Semua kita pasti berharap memiliki rumah tangga yang sakinah dan penuh berkah.
Rasulullah telah mengajarkan suami bagaimana memuliakan istri. Seperti sabda
beliau, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik
akhlaknya. Lelaki yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik
terhadap istrinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Seorang suami dituntut
untuk dapat bersikap lembut terhadap istrinya. Karena, sebagaimana telah
dijelaskan Rasulullah SAW, istri (wanita) diibaratkan seperti tulang rusuk.
Jika diluruskan dengan paksa, maka tulang itu akan patah. Dan sebaliknya, jika
dibiarkan akan tetap bengkok.
Suami adalah nakhoda dalam bahtera rumah tangga, demikian syariat telah
menetapkan. Dengan kesempurnaan hikmah-Nya, Allah SWT telah mengangkat suami
sebagai qawwam (pemimpin). “Kaum pria adalah qawwam bagi kaum wanita….”
(An-Nisa: 34)
Suamilah yang kelak akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan
Allah SWT tentang keluarganya, sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah SAW, “Laki-laki
(suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai
pertanggungjawaban) tentang mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam menjalankan
fungsinya ini, seorang suami tidak boleh bersikap masa bodoh, keras, kaku dan
kasar terhadap keluarganya. Bahkan sebaliknya, ia harus mengenakan perhiasan
akhlak yang mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang.
Meski pada dasarnya ia adalah seorang yang berwatak keras dan kaku, namun
ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih lagi dengan istri dan
anak-anaknya, ia harus bisa bersikap lunak agar mereka tidak menjauh dan
berpaling. Dan sikap lemah lembut ini merupakan rahmat dari Allah SWT sebagaimana
kalam-Nya ketika memuji Rasulullah.
“Karena disebabkan rahmat Allah lah engkau dapat bersikap lemah lembut dan
lunak kepada mereka. Sekiranya engkau itu adalah seorang yang kaku, keras lagi
berhati kasar, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali
‘Imran: 159)
Dalam tanzil-Nya, Allah SWT juga memerintahkan seorang suami untuk bergaul
dengan istrinya dengan cara yang baik. “Dan bergaullah dengan mereka (para
istri) dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)
Al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas, menyatakan: “Yakni
perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan dan
penampilan kalian sesuai kadar kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri)
berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat hal yang sama.
Rasulullah SWA bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap
keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian
terhadap keluargaku (istriku)."
Termasuk akhlak Nabi SWA, beliau sangat baik hubungannya dengan para istrinya.
Wajahnya senantiasa berseri-seri, suka bersenda gurau dan bercumbu rayu dengan
istri, bersikap lembut dan melapangkan mereka dalam hal nafkah serta tertawa
bersama istri-istrinya. Sampai-sampai, beliau pernah mengajak ‘Aisyah Ummul
Mukminin berlomba, untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.”
(Tafsir Ibnu Katsir)
Begitulah bagaimana
Rasulullah SAW, memuliakan istrinya. Dengan cara itu patut diteladani untuk
mewujudkan keluarga sakinah, warahmah dan mawaddah. Semoga kita semua bisa
meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW dalam menjalin hubungan suami istri yang
baik. (M. Natsir/rpl)
Categories: Religi
